Selasa, 04 Juli 2017

Deadliners

Aku sering berkejaran dengan waktu
Lebih sering lagi, aku malah bertengkar dengannya
Kadang aku menang
Namun kadang waktu yang berhasil menjadikanku seorang pengecut
Jika waktu sudah menang, ia akan meledekku dengan keterlaluan
Ia akan tertawa puas melihatku kesusahan
Aku lari ke sana
Lari ke sini
Ah, ada yang tertinggal
Ku lalu balik lagi
Suara terbahak-bahak sang waktu membuatku lebih sulit berkonsentrasi
Ya Tuhan!
Ada yang tertinggal lagi
Kepalaku mulai pusing tujuh keliling
Gerakan kakiku mulai kacau tak karuan
Keinginan sang waktu yang menang telah terwujudkan
Esoknya aku bangkit dengan tekad kuat
Bukan bertekad untuk tidak adu jontos lagi
Bukan pula bertekad untuk menjadi sahabat sang waktu
Tapi justru untuk mengerahkan seluruh daya upaya untuk kembali menantangnya

Minggu, 21 Mei 2017

Cerita tentang Pagar

Izinkan aku bercerita tentang pagar
Pagar dari bambu yang dulu kutancapkan satu per satu
Dulu kupasang pula tali untuk mengikat yang satu dengan yang lainnya
Pagar itu cukup kokoh, aku bangga karenanya
Tapi suatu hari badai datang
Menantang pagar bambuku untuk tetap bertahan
Aku menangis
Kulihat tali temali yang mengikat pagarku mulai merenggang
Kuratapi tali yang hampir lepas itu, lalu angin sepoi berbisik padaku,
"Bukankah selama ini kamu terlalu terkekang? Kamu dikelilingi pagar hingga segala yang kamu lakukan jadi terbatas. Tidakkah kamu ingin bebas? Seperti orang-orang yang berlalu lalang di luar sana?"
Aku termenung sesaat
Kulihat orang-orang di luar pagarku berjalan kesana kemari dengan semangat
Lalu kumulai berpikir keras, haruskah kubongkar saja pagar ini?
Melepaskannya satu per satu dari atas tanah
Aku iri
Aku benci
Aku marah
Aku juga ingin berjalan-jalan sore di luar pagar
Aku ingin ketawa ketiwi membanggakan diri yang tak dibatasi
Kucabut paksa pagar bambuku
Ah, tapi tanganku sekarang jadi kesakitan
Serat bambu itu menusuk tanganku
Darah mulai menetes keluar
Aku menangis lagi
Di antara pagar yang berantakan dan kebebasan

Selasa, 21 Februari 2017

Kepala Dua

"Sekarang, kepalanya ada dua. Kalau masih tidak bisa mengendalikan ego, hancurlah sudah."

Analogi sederhana tentang kata polisemi "kepala" cukup tepat juga. Sifat egois adalah manusiawi. Tapi mengendalikan ego adalah tugas manusia. Manusia harus mengendalikan sifat manusiawinya agar menjadi manusia sesungguhnya.
Hidup bukan hanya tentang makan, tidur dan bekerja. Hidup itu untuk merasakan bahagia, kecewa, marah, sedih, dan harap. Karena itu Tuhan menciptakan manusia lain di sekelilingnya. Menengok ke belakang, Hawa pun diciptakan untuk menemani Adam.
Seiring waktu berlalu, manusia belajar dari perasaan-perasaan yang muncul. Manusia memilah mana yang benar dan salah. Yang benar terus dilakukan, yang salah diperbaiki. Meski nyatanya benar dan salah kadang sulit dibedakan. Meski nyatanya benar dan salah berubah menjadi relatif akibat keegoisan.
Maka, setelah satu kepala kembali lahir dengan ego baru, ada dua kemungkinan terbesar; bertengkar karena berbeda atau bersatu karena sama. Kemungkinan pertama bagaimana pun sudah negatif, sementara kemungkinan kedua akan menyakiti manusia lainnya. Rumusnya; ego + ego = keras kepala
Tapi ada satu kemungkinan lain, yaitu mengendalikan ego. Meski hanya kemungkinan kecil, tapi itu bukan pengingkaran yang tidak akan terjadi. Pengendalian akan meciptakan damai, dalam diri sendiri dan di antara orang lain.
Ini sebenarnya hanya pesan untuk diri sendiri. Untuk mengingatkan bila sewaktu-waktu lupa. Seperti ego, lupa juga merupakan sifat manusia.
Semoga kedewasaan melengkapi perjalanan ke depan. Semoga orang-orang tersayang kan tetap menjadi teman seperjalanan. Semoga ego tidak mengacaukan jalan yang masih panjang.

Jakarta, 21 Februari 2017
Seorang mahasiswi yang akhirnya genap berusia 20 tahun