Rabu, 01 Januari 2025

2024

Atas segala keinginan yang terwujud
Akankah sekadar puji-pujian kepadaNya cukup?
Bagiku yang tak pandai menyusun rencana
Untuk apa lancang menentang Yang Maha Penyayang?

Tak sedikit pun perlu meratap
Tak sebanding dengan banyaknya nikmat
Waktu telah memberi kesempatan belajar
Sebab hikmah selalu datang
Beriring sejuta pengalaman

Sementara otak mencerna lebih paham
Rasa syukur membuncah dari dalam
Demi hal lain yang masih jadi harapan

Selayaknya manusia tak kenal puas
Apa jadi serakah menjelma binatang buas?
Di antara segala kebahagiaan hidup
Akankah sekadar puji-pujian kepadaNya cukup?

Selasa, 11 Agustus 2020

Romantisisasi Kekalahan

Romantisisasi, bukan kata yang sebenarnya ada di pikiran saya ketika muncul niat untuk membuat tulisan ini. Romantisasi, kata yang biasa saya dengar—baca—di media sosial inilah yang tadinya akan digunakan. Namun, demi kepentingan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, a.k.a (memang karena Fitria ribet aja orangnya) jadi saya mencari tahu lebih dulu tentang asal muasal kata romantisasi ini.
Berbekal hasil pencarian di Google, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kata romantisisasi, hasil serapan dari kata Bahasa Inggris romanticization. Artinya? Ya sesuai dengan yang biasa kita pahami dengan istilah romantisasi kok. Silakan googling sendiri tentang kata romantisisasi kalau penasaran (engga penasaran juga gpp, gamaksa kok), saya tidak mau panjang lebar menjelaskan, mengejanya saja seperti butuh usaha, soalnya.
Sebelum benar-benar masuk ke inti tulisan saya mau cerita dulu ah. (Btw ini kan blog saya, suka-suka saya berarti kan ya?). Beberapa hari belakangan saya agak "oleng", saya merasa agak kewalahan untuk menyelesaikan semua tanggung jawab saya. Seoleng apa? Ya kira-kira sampai harus ditelpon pengawas untuk segera mengumpulkan laporan induksi karena hanya saya saja yang belum mengumpulkan akibat hardcover harus dibongkar ulang di hari pengumpulan lah. Bersyukur banyak sekali orang-orang yang membantu, sampai bingung bagaimana harus membalas jasa mereka nanti.
Faktornya? Kalau dijabarkan mungkin akan jadi sangat banyak, tapi faktor yang paling mengakibatkan keolengan saya sepertinya adalah kehidupan yang baru saja menunjukkan warna aslinya. Halah, apa coba maksudnya? Entahlah, ya intinya saya belajar banyak tentang kehidupan belakangan ini.
Mengenal orang-orang di dunia ini dengan berbagai intensi dan tujuan, bukan hal yang mudah. Mengenal diri sendiri pun rasanya tidak pernah khatam, menganalisis warna-warni dalam diri tiap orang pastilah sulit. Dunia ternyata memang bukan hanya tentang hitam atau putih, ada biru langit yang teduh, biru dongker yang gelap, merah yang ditambah putih sehingga jadi merah muda, atau coklat yang muncul atas pencampuran 3 warna. Kok jadi belajar SBdP? Haha
Urusannya apa sama tulisan ini, fit? Ya inimah maksudnya mau curhat aja, saya merasa obat dari segala keolengan saya itu adalah menulis. Lama tidak menulis, di masa pandemi yang menekan mental ini, pantas akibatnya hidup penuh blunder. Harapannya semoga saya tidak banyak blunder lagi setelah mencurahkannya di sini.
Baiklah, jadi setelah ditelpon pengawas hari itu, mestinya laporan itu menjauh dari saya sebagai tanggung jawab yang sudah ditunaikan. Lalu hari ini, bisa menonton film lewat hp sebagai penghargaan atas gugurnya satu kewajiban sangatlah membahagiakan. Film yang saya pilih hari ini; Kesari. Sebelum memutuskan menonton filmnya, saya sudah lama mendengar ostnya yang berjudul Ve Maahi. Lagu dalam bahasa Punjab itu terngiang-ngiang setelah muncul beberapa kali di explore instagram sebagai backsound di video-video brown–tiktokers.
Saat mulai menonton, saya tidak mengharapkan apapun, tulus dan mengalir saja ingin mencari penghiburan. Lalu di tengah menonton sempat muncul perasaan untuk bersiap akan serangan rasa patriotik yang kental dan ending bahagia yang sudah lumrah. Selain faktor jalan cerita, aktor Akhsay Kumar juga sudah biasa menggambarkan sosok yang "punya pencapaian" di akhir cerita, seperti pada film Padman, Toilet: Ek Prem Katha, atau Airlift. Namun nyatanya, ekspektasi tinggal ekspektasi, di akhir film tangisan saya justru pecah hanya karena sepasang sepatu.
Kesari, sembari menikmati sajian di menit penghabisan, membuat saya teringat pada film Padmavaat. Film yang berhasil memberi kesan lebih dibanding film lainnya bagi saya. Awalnya saya berpikir ini hanya karena masalah latar film yang membuat saya menghubungkan keduanya. Namun, setelah berusaha melihat polanya, tercetuslah dalam pikiran Fitria istilah "romantisisasi kekalahan".
Romantisisasi kekalahan, entah merupakan istilah yang tepat atau tidak, itulah yang muncul dalam benak saya. Berdasarkan ending yang tidak seperti pada cerita Disney—Happily Ever After— atau adanya pencapaian di 3 film Akhsay Kumar yang saya sebut sebelumnya, seharusnya istilah itu masih bisa dianggap masuk akal. Padmawati dan Ishar Singh tidak menunjukkan "kemenangan" secara tersurat. Sungguh menarik, bahwa dua kata antonim–kalah dan menang– bisa dilhat hanya dari sedikit sudut pandang yang berbeda.
Padmawati dengan ritual jauharnya seakan terlihat konyol. Ishar Singh yang nekat berperang sampai petang dengan jumlah prajurit hanya 21 orang sementara jumlah lawan 10.000 orang pun terkesan gila. Mereka mati di akhir cerita. Mereka kalah.
Terlepas dari diangkatnya kisah mereka berdasarkan sejarah yang memang menujukkan bahwa mereka kalah–mati, makna dari tindakan mereka terungkap dengan cara yang elegan. Tentang sebuah kehormatan. Sampai pada titik di mana penonton berhasil merasakan kemenangan di tengah kekalahan mereka, maka romantisisasi kekalahan dalam kedua film ini dapat dianggap berhasil.
Sebagai seorang yang bukan kritikus film ataupun reviewer film, hal rumit mengenai film yang mampu saya lakukan hanyalah menghubungkan insight dari film ke dalam kehidupan nyata. Romatisisasi kekalahan ini mengajarkan saya bahwa—terlepas dari kelihaian orang yang terlibat dalam film tersebut—semua kisah memang tidak harus berakhir indah untuk bisa didongengkan. Tidak semua hal harus berhasil untuk bisa dibanggakan. Tidak hanya kemenangan yang pantas disanjung, tapi proses menghasilkan, entah menang atau kalah, pantas untuk diriwayatkan.
Romantisisasi kekalahan bukanlah hal yang buruk. Setidaknya gambaran dalam film Padmavaat dan Kesari ini menunjukkan bahwa melafalkan sajak tentang kekalahan bukan ide yang salah. Kadangkala dari sebuah perjuangan yang tidak berakhir bahagia kita bisa belajar untuk memahami makna. Ilusi  yang muncul dari sebuah romantisisasi kekalahan pun justru malah akan membuat maknanya semakin dalam.
Kisah yang dianggap gagal, sejarah yang tak menghasilkan sebuah pencapaian, atau narasi yang tumbang, semua pantas untuk diingat. Kekalahan bukanlah hal yang memalukan, perjuangan yang telah dilakukan, baik menang atau kalah, semua pantas untuk diceritakan.
Kalah dalam urusan pekerjaan, kalah dalam hal percintaan, kalah dalam konteks apapun, proses yang telah dilalui patut dihargai. Sedikit "oleng" karena kalah tidak masalah, karena ini semua hanya proses belajar. Tidak perlu khawatir, menang atau kalah dilihat orang, percayalah pada kemenangan dari sudut pandang diri sendiri. Karena orang lain tak tahu proses yang sudah dijalani.
Lagipula, menang atau kalah memang bukan terjadi atas kehendak kita sendiri. Ada Dzat yang sudah menuliskan bagaimana jalannya kehidupan dari setiap makhluk yang ada di bumi. Semua yang telah diusahakan tidak perlu dianggap sia-sia hanya karena dicap kalah. Begitupun bahwa kemenangan bukanlah segalanya.
Tetap semangat, selalu hargai orang lain, dan banggalah pada diri sendiri!

Minggu, 05 April 2020

Santi Susanti


San, congrats for another special day in your life! Eventhough I'm sure today has a huge different from the other special days, my prayers are always with you everyday, not only today.
Happy wedding!

San, aku pasti udah berkali-kali bilang ini ke kamu, tapi aku akan bilang lagi sekarang. Pertama kali aku notice kamu di kelas, aku tahu kamu pasti orang yang cerdas. Sejak saat itu aku pengen banget temenan sama kamu. Alhamdulillah aku bisa bilang sekarang kalau keinginan aku udah tercapai, kan? Kalaupun enggak, jangan bilang ya, nanti aku bakal sedih banget karena nggak dianggap haha
Beberapa tahun terakhir selalu interaksi sama kamu, aku jadi tahu kamu bukan cuma cerdas. Kamu mandiri, dewasa, dan pendengar yang baik. Sejujurnya kalau bisa dibilang, aku akan mengakui kalau aku udah sampai pada titik ngefans sama kamu haha banyak banget hal yang bisa aku teladani dari kamu. Sampai kalau harus ngomongin kejelekan kamu di belakang mungkin aku nggak tahu harus ngomongin apa.
Anyway, terima kasih lho san udah menjadi temanku selama ini. Harus banyak-banyak sabar kan ya menghadapi orang kayak aku? Untung kamu sabar haha
I'm so lucky to know you, san. Walaupun sampai sekarang aku tetap nggak bisa secerdas kamu, semandiri kamu, sedewasa kamu, dan jadi pendengar yang baik kayak kamu, tapi aku dapat banyak insight setelah banyak tukar pikiran sama kamu. Terima kasih lagi, san!

You are so beautiful today. Akhirnya baju pengantin yang modelnya kita liat-liat di perpus UPT sekarang kamu pakai, lengkap dengan bentuk bujur sangkar di dahi pula.
I'll see you soon!

Once more time, congratulation!
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ


By the way, sorry, aku nggak buat video. You know, I can express my feeling better with words, right?

San, can we still be friends?

Jumat, 13 Maret 2020

Februari

Sudah lama sejak saya berjanji akan mengedit tulisan di postingan terakhir saya-yang sampai saat ini belum diedit juga. Seperti sifat Fitria yang telah banyak diketahui orang, saya malas. Setiap membuka blog ini dan ingat pada janji saya itupun akhirnya saya jadi mengurungkan niat membuat untuk postingan baru. Tapi kali ini, harap maklum, saudara-saudara. Salam damai. Saya akan mengedit postingan berjudul "Berkompromi dengan Mimpi" itu nanti. (peace)
Huh, by the way,
Sekarang tahun 2020.
1 tahun lebih saya tidak menulis, pantas rasanya seperti ada yang hilang.
Desember 2018 hingga Januari 2020, ada banyak hal yang terjadi dalam diri maupun di sekitar saya. Kalau mau diuraikan beberapa diantaranya adalah wajah muram saya setelah keluar dari ruang tempat pelaksanaan tes SKB CPNS (kala itu nilai saya tidak memenuhi target), langit biru yang menjadi saksi penyerahan SK CPNS ke tangan saya, teman-teman yang patah hati, teman-teman yang (tiba-tiba) menikah, drama aktualisasi, dan kali pertama menghadapi petugas imigrasi. Semua yang terjadi dalam selang waktu itu kadang diiringi oleh senyuman lebar, tawa terbahak-bahak, kekecewaan dan kegelisahan, serta isak tangis. Apapun itu, saya sudah melewatinya. Sudah terlewati. SUDAH TERLEWATI. YEAY!!! (lega sekali mengungkapkan rasa bangga pada diri lewat tulisan).
Oh ya, mengapa hanya sampai Januari? Karena tulisan kali ini akan menceritakan tentang Februari.
Februari 2020, dimulai dengan hujan di siang hari. Tanggal pertama di bulan Februari itu saya isi dengan kegiatan memasak soto ayam (ingat setelah scrolling archive instagtam). Berlakon layaknya seorang calon istri idaman, padahal kalau disuruh membuat lagi pun saya harus bolak-balik menyontek resep di google. Saya pikir ada satu hal yang harus saya sampaikan di sini. Saya bisa memasak, tapi saya tidak bisa menghafal bumbu masakan ataupun teknik memasak. Oh ya, saya juga tidak ingat seberapa banyak garam yang saya masukkan ke dalam masakan saya beberapa hari yang lalu. Intinya saya bisa memasak, tapi tidak tahu apakah masakan yang saya buat akan terasa enak. Cookpad masih menjadi andalan.
Ini agak di luar dari pembahasan, tapi saya merasa bahwa setelah adanya teknologi smartphone, otak saya jadi lebih sulit mengingat sesuatu. Bahkan saya tidak hafal nomor telepon ibu saya. Kalau mau dibandingkan, dulu sebelum handphone menjadi secanggih ini, saya ingat betul nomor telepon ayah saya. Sampai sekarang juga masih ingat. 081380530xxx, digit belakangnya disensor seperti di tv. Kita tidak boleh menyebar nomor telepon seseorang tanpa izin ke yang bersangkutan dulu, kan? Karena saya tidak izin dan malas minta izin, jadi disensor saja hihi
Kembali ke pembahasan.
Awal Februari saya berjalan dengan baik. Mencoba Boba KFC yang murah meriah tapi lumayan enak dan membeli baju pramuka baru juga sudah menyenangkan hati. Saya jadi tidak menggerutu lagi di dalam hati saat harus memakai baju pramuka dari zaman kuliah yang kebesaran dan tidak menyerap keringat. Itu adalah salah satu rezeki yang Allah berikan di bulan Februari.
Masuk ke pertengahan bulan, saya mendapat rezeki lain lagi. Bisa menonton show stand up comedy Raditya Dika dengan menggantikan saudaranya teman yang tidak bisa datang sungguh di luar dugaan. Belum lagi, ada paket gratis yang sampai ke rumah. Bedak Maybelline Fit Me yang terbaru. Selain itu, OGN. Saya tidak pernah tahu apa itu OGN sebelumnya sampai pada akhirnya saya disuruh ikut oleh Kepala Sekolah. Masuk ke dalam juara 6 besar Olimpiade Guru Nasional tingkat kecamatan cukup mengejutkan. Saya hanya belajar 1 malam, tahu sendiri malam sebelumnya saya malah cekikikan menonton Raditya Dika. Rezeki lainnya di bulan Februari.
Tiba di akhir Februari. Saya berulang tahun, untuk ke 23 kalinya. 23 tahun sudah saya bertahan hidup di dunia. Saya tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kejutan dari anak murid yang seringkali saya marahi agar jadi lebih disiplin. Mereka membawakan sebuah ice cream cake dan 1 kotak besar nasi kuning dengan lauk ayam goreng, nugget, tempe orek, dan pelengkap lainnya. Beberapa hari setelahnya saya duduk terharu di depan banner Olimpiade Guru Nasional tingkat Jakarta Timur wilayah 1. Saya menjadi salah satu wakil dari kecamatan untuk bertanding di tingkat kota. Mata saya sempat berkaca-kaca sepertinya haha berlebihan, ya? Tapi saya merasa bahwa kebahagiaan yang Allah berikan sejak awal bulan tidak ada habisnya. Saya merasa tidak pantas untuk menjadi sebahagia itu.
Belum selesai...
SK PNS DKI Jakarta akhirnya sampai ke tangan saya. Perjalanan panjang yang ada dibalik sebuah keputusan gubernur itu bermunculan dalam pikiran saya. Lagi, saya merakan kebahagiaan yang luar biasa. Rezeki yang terlalu banyak.... semoga berkah.
Sebagai seorang manusia biasa, ada sedikit rasa khawatir terhadap kembalinya kebahagiaan yang saya rasakan ke titik normal. Jika diibaratkan, saya telah terbang ke langit ketujuh, maka saya ketakutan saat harus kembali ke tanah karena itu terlalu jauh. Selain khawatir, saya juga memiliki rasa serakah, saya tidak ingin kebahagiaan itu berhenti sampai di situ. Saya ingin bisa menghentikan waktu, memperpanjang waktu, ataupun memutar balik waktu.
Maka, 29 Februari 2020, saat yang tepat untuk mendengarkan lagu BTS Butterfly.

Ohya, seharusnya saya merenungkan jawaban Padmavati saat ditanya oleh Raghav Chetan tentang apa sebenarnya kebahagiaan itu.
Raghav Chetansukh kya hai? (What is happiness?)
Padmavatibrahm (An illusion)

Ya, apapun itu, sekarang saya akan bersyukur terhadap apapun yang telah terjadi. Saya akan menganggap Februari 2020 sebagai hadiah. Hadiah bagi seorang Fitriah Choirunnisa yang masih perlu banyak belajar tentang kehidupan.

Minggu, 02 Desember 2018

Berkompromi dengan Mimpi

Beberapa waktu belakangan saya banyak berpikir tentang masa depan (lebih banyak dari biasanya, biasanya saya tidak berpikir tentang masa depan sama sekali soalnya). Apa yang saya pikirkan tidak spesifik tentang masa depan sih sebetulnya, seringnya justru saya suka memikirkan berapa banyak kira-kira pendapatan Safiya Nygaard dari channel youtubenya atau apakah Matkiding punya alasan lain selain mencari calon istri ketika menanyakan, "suka ada cewek yang lewat nggak nih, pak/bu?" kepada setiap penjual makanan yang diliputnya. Ya, tapi karena merasa punya tanggung jawab moral untuk merangkai kehidupan di waktu mendatang sebagai seorang pengangguran, akhirnya saya memutuskan untuk memikirkan tentang masa depan juga.
Sejujurnya memikirkan masa depan pada titik tertentu membuat saya agak tertekan. Selama ini saya hanya punya gambaran tentang apa yang harus saya lakukan dalam hidup ini sampai pada waktu di mana saya memakai toga dan memegang ijazah S1 di tangan. Maksudnya, sewaktu saya TK, saya tahu bahwa setelahnya saya akan masuk SD, setelah lulus SD, saya tahu bahwa saya akan masuk SMP, setelah itu masuk SMA, lalu kuliah jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Tapi setelah lulus kuliah, saya mau apa? Kemana lagi saya akan melangkah, tidak ada gambaran. Bukan berarti tidak jalan yang bisa saya tempuh setelah menyandang gelar, tapi saya hanya tidak tahu arah mana yang tepat.
Tidak lama setelah saya lulus, Pemerintah mengumumkan bahwa akan ada seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Singkat cerita saya melakukan banyak persiapan untuk tes sampai tiba waktunya saya mengikuti tes tahap pertama yaitu Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Saat mempersiapkan ini dan itu untuk keperluan CPNS, saya meyakinkan diri saya bahwa mungkin ini memang jalan yang tepat untuk saya tempuh setelah lulus, lagipula saya rasa keluarga saya memang membutuhkan kestabilan ekonomi dan Pemerintah telah menjanjikan hal itu bagi PNS. Namun, kalimat "baik, saya akan menjadi PNS." seketika buyar saat poin saya gagal mencapai passing grade yang ditetapkan.
Saya tidak sedepresi itu karena gagal menjadi salah satu dari 3% orang yang berhasil menaklukkan soal TWK, TIU, dan TKP sebenarnya. Tapi yang membuat kepala saya agak pening adalah jalan mana lagi yang bisa saya tempuh setelah ini. Haruskah saya melamar di sekolah swasta? Haruskah saya belajar untuk seleksi tahap kedua CPNS sambil menunggu pengumuman resmi tentang seleksi tahap pertama yang barangkali saja masih memberikan saya kesempatan mengingat ada perubahan kebijakan? Haruskah saya membuka jasa les privat di OLX seperti yang teman saya lakukan? Atau haruskah saya belajar untuk mempersiapkan beasiswa S2? Benar-benar membingungkan. Kalau saya orang Inggris mungkin saya sudah berucap, "I have no idea."
Tiba suatu hari di mana saya bertanya pada teman-teman dekat saya tentang target hidup mereka, apa yang paling mereka inginkan, dan apa tujuan hidup mereka. Padahal pertanyaan itu harusnya saya tujukan pada diri sendiri, tapi saya malah menanyakan pada orang lain. Sesungguhnya itu dilakukan tidak lain tidak bukan karena mungkin saya bisa menyontek target, keinginan, dan tujuan hidup mereka. Seperti yang telah diniatkan −menyontek−, maka tidak lupa saya juga menanyakan upaya-upaya yang mereka lakukan (sudah maupun akan). Tiap-tiap jawaban yang mereka lontarkan saya catat dan saya rangkum untuk kemudian saya pahami baik-baik.
Mereka menulis mimpi-mimpinya. Pola itulah yang saya dapatkan dari hasil analisis saya. Mengetahui hal tersebut, dengan semangat saya membuka binder masa kecil, catatan harapan setiap awal tahun baru, membaca postingan-postingan lama di blog ini dan catatan lainnya yang mungkin bisa memberikan petunjuk tentang apa-apa yang saya impikan. Setelah lama mencari tahu akhirnya saya menemukan bahwa mimpi saya adalah; menjadi Menteri Pendidikan dan pergi ke luar negeri gratis. Dua hal itulah yang paling saya inginkan dalam hidup ini, dan menengok ke belakang, saya bisa berkata bahwa hal-hal yang saya lakukan adalah dalam rangka mewujudkan mimpi tersebut.
Alasan bermimpi menjadi Menteri Pendidikan adalah untuk aktualisasi diri. Kalau boleh jujur, setelah saya menganalisis diri saya, saya tahu bahwa saya suka menjadi seseorang yang menonjol. Walau tentu saja, saya tidak selalu berhasil, seringkali saya juga menarik mundur diri saya ketika saya tahu bahwa saya tidak akan bisa menonjol di dalam suatu komunitas. Saya berpikir bahwa menjadi Menteri Pendidikan adalah batas kemenonjolan maksimal bagi saya, yang menjadi Presiden biarlah yang lebih kompeten. Maka saya tertantang untuk mencapai batas tersebut.
Lain halnya dengan mimpi pergi ke luar negeri gratis. Variabel-variabel yang mempengaruhi mimpi saya yang satu ini adalah sertifikat A2 yang saya miliki setelah 2 tahun belajar Bahasa Jerman intensif di SMA, novel-novel yang menggambarkan bahwa orang sukses akan dapat beasiswa kuliah di luar negeri, drama Korea yang memvisualisasikan negaranya dengan indah, dan teman-teman dekat saya yang pergi atau bahkan tinggal di luar negeri. Atau bahkan mungkin juga karena saya masih penasaran bagaimana rasanya udara di Jerman setelah menolak beasiswa partially-funded untuk ikut pertukaran pelajar saat SMA. Saat itu, keluarga saya tidak punya uang untuk membayar setengah bagiannya lagi, dan saya belum tahu bahwa saya bisa saja mencari sponsor untuk itu.
Berbekal pemahaman bahwa teman-teman saya menuliskan apa-apa saja yang diimpikannya, akhirnya saya bertekad bahwa saya harus memulai mewujudkan paling tidak salah satu dari mimpi saya. Saya mencari-cari program kepemudaan yang biasanya berupa seminar di luar negeri. Upaya pencarian yang saya lakukan dengan mempertimbangkan jumlah sisa uang di tabungan yang saya miliki serta tentunya kualifikasi dan kemampuan saya, membuahkan hasil penemuan suatu program yang diadakan di Yogyakarta yang hanya menjanjikan bahwa pihak panitia akan memenuhi kebutuhan akomodasi selama acara. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar di program tersebut untuk kemudian diseleksi oleh panitia, tentunya− saya berkompromi dengan tujuan akhir saya. Saya berpikir bahwa jika saya ingin mewujudkan mimpi saya untuk KE LUAR NEGERI GRATIS, semestinya saya membangun link terlebih dahulu. Toh di sana saya akan menemukan pemuda-pemuda lain yang pasti sudah punya pengalaman yang lebih banyak di program kepemudaan. Saya juga berpikir bahwa tidak akan jadi masalah kalau saya harus mengeluarkan uang untuk sampai ke tempat acara tersebut. Singkat cerita, Fitriah dengan semangatnya yang membara, mendaftarkan dirinya. 
Saya mengisi beberapa pertanyaan saat mendaftar; tentang pengalaman memimpin, apa tujuan saja mengikuti program, dan apa yang akan saya lakukan dalam 5 tahun ke depan. Tentu saya memutar otak untuk dapat menjawab, mencari-cari kelebihan yang mungkin bisa saya banggakan, menggunakan bahasa sediplomatis mungkin, bahkan mengorfirmasi Bahasa Inggris saya kepada teman yang lebih menguasainya. Sesaat setelah mendaftar, saya memasrahkan hasilnya sambil berusaha memercayai diri saya karena saya rasa saya telah menujukkan secara maksimal tentang apa yang saya miliki. Apa yang saya punya, itulah yang saya tawarkan dengan maksimal.
Hari demi hari berlalu, tidak terdengar adanya pengumuman hasil seleksi untuk program tersebut. Saya kemudian mengecek e-mail, dan hanya menemukan e-mail ucapan terima kasih atas partisipasi saya dalam program tersebut. Hari-hari berikutnya, saya membuka e-mail setiap pagi, barangkali saya menemukan e-mail pengumuman dari panitia, karena saya tidak menemukan update apa pun di sosial media program maupun pelaksananya. Tiba pada hari di mana program itu dijadwalkan, saya tidak menerima e-mail lain lagi. Saya berpikir sekaligus berharap bahwa acara mungkin saja diundur. Namun, akhirnya pada malam harinya saya melihat update di sosial media program tersebut. Baiklah, ternyata saya memang tidak terpilih. 
Tentang kecewa. Siapapun akan merasakannya ketika kita berharap, tapi ya sudahlah. Toh, rasanya masih lebih mending daripada saat saya tahu nilai TKP SKD CPNS saya kurang 4 poin. Kemudian saya jadi tersadar bahwa untuk sebuah program yang sudah saya kompromikan saja saya gagal, bagaimana bisa saya mencapai mimpi saya yang jauh lebih besar. Saya tersadar setelah saya stalking salah satu peserta yang terpilih, btw haha. Dan lagi, saya ingat bahwa ini bukan pertama kalinya saya gagal, setidaknya saya pernah mencoba mendaftar untuk 2 program semacam ini sebelumnya. Yang fully-funded. Sungguh tidak ngukur diri wkwk
Saya pun mengukur diri saya, bukan berat atau tinggi badan, kalau itu saya sudah tahu kok dan tidak perlu diingat-ingatdefense mechanism. Sudah cukup penderitaan manusia penggangguran ini, tidak usah lagi ditambahkan dengan melihat angka di timbangan. Ya, saya mengukur kemampuan saya, tentang apa yang saya punya sebenarnya, dan apakah mungkin saya menjadi pemuda yang dibiayai ke luar negeri, sementara ada banyak pemuda yang lebih pantas. Dan jawabannya adalah tidak. Saya tahu sejak lama sebenarnya, tapi tetap memaksakan diri.
Di sela-sela kekecewaan ini, saya membaca lagi jawaban teman-teman saya atas pertanyaan yang saya ajukan. Saya percaya bahwa teman-teman saya memberikan jawaban terbaiknya, maka saya mencoba memahami lagi tentang mimpi mereka. Saya telaah, dan hasilnya adalah mereka menuliskan mimpi yang realistis. Mimpi yang mereka tahu bahwa mereka dapat mewujudkan, sementara kaki mereka melangkah ke arah sana. Mereka tidak memaksakan diri mereka untuk mengegolkan mimpi yang terlalu 'tidak mungkin' bagi mereka. 
Kembali saya pandangi kedua mimpi saya. Itu tidak realistis, bagi saya. Tentu saja keajaiban bisa saja tiba-tiba terjadi, tapi berbekal hasil mengukur diri, kedua hal tersebut terlampau jauh untuk saya capai. Ini bukan soal menyerah. Itu hal yang berbeda. Itu disebut menyerah apabila sebenarnya kita mampu jika berusaha lebih giat. Tapi itu bukan menyerah apabila sebenarnya kita hanya memaksakan diri. Saya rasa, saya hanya berkompromi setelah mengukur diri. 
Sekarang tentu saya masih ingin ke luar negeri gratis, tapi dengan jalan lain. Gratis karena dibayarin oleh suami, misalnya? Haha
Mimpi menjadi Menteri, untuk yang satu itu sepertinya saya memang tidak mampu. Menjadi Ketua Umum di organisasi fakultas saja dapat banyak kritik, bagaimana kalau jadi Menteri? Hancurlah pendidikan di negeri ini nanti. Jadi, saya rasa menjadi guru PNS saja sudah cukup. Masalah naik jabatannya akan jadi urusan belakangan, yang penting saya berusaha untuk selalu mengembangkan diri. Lihat, kan? Saya tidak menyerah untuk menjadi PNS. Lagi-lagi karena ini bukan soal menyerah, tapi berkompromi. 


(masih banyak salah di penulisan, akan dibenarkan nanti kalau buka laptop)