Beberapa waktu belakangan saya banyak berpikir tentang masa depan (lebih banyak dari biasanya, biasanya saya tidak berpikir tentang masa depan sama sekali
soalnya). Apa yang saya pikirkan tidak spesifik tentang masa depan
sih sebetulnya, seringnya justru saya suka memikirkan berapa banyak kira-kira pendapatan Safiya Nygaard dari
channel youtubenya atau apakah Matkiding punya alasan lain selain mencari calon istri ketika menanyakan, "suka ada cewek yang lewat nggak nih, pak/bu?" kepada setiap penjual makanan yang diliputnya. Ya, tapi karena merasa punya tanggung jawab moral untuk merangkai kehidupan di waktu mendatang sebagai seorang pengangguran, akhirnya saya memutuskan untuk memikirkan tentang masa depan juga.
Sejujurnya memikirkan masa depan pada titik tertentu membuat saya agak tertekan. Selama ini saya hanya punya gambaran tentang apa yang harus saya lakukan dalam hidup ini sampai pada waktu di mana saya memakai toga dan memegang ijazah S1 di tangan. Maksudnya, sewaktu saya TK, saya tahu bahwa setelahnya saya akan masuk SD, setelah lulus SD, saya tahu bahwa saya akan masuk SMP, setelah itu masuk SMA, lalu kuliah jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Tapi setelah lulus kuliah, saya mau apa? Kemana lagi saya akan melangkah, tidak ada gambaran. Bukan berarti tidak jalan yang bisa saya tempuh setelah menyandang gelar, tapi saya hanya tidak tahu arah mana yang tepat.
Tidak lama setelah saya lulus, Pemerintah mengumumkan bahwa akan ada seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Singkat cerita saya melakukan banyak persiapan untuk tes sampai tiba waktunya saya mengikuti tes tahap pertama yaitu Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Saat mempersiapkan ini dan itu untuk keperluan CPNS, saya meyakinkan diri saya bahwa mungkin ini memang jalan yang tepat untuk saya tempuh setelah lulus, lagipula saya rasa keluarga saya memang membutuhkan kestabilan ekonomi dan Pemerintah telah menjanjikan hal itu bagi PNS. Namun, kalimat "baik, saya akan menjadi PNS." seketika buyar saat poin saya gagal mencapai passing grade yang ditetapkan.
Saya tidak sedepresi itu karena gagal menjadi salah satu dari 3% orang yang berhasil menaklukkan soal TWK, TIU, dan TKP sebenarnya. Tapi yang membuat kepala saya agak pening adalah jalan mana lagi yang bisa saya tempuh setelah ini. Haruskah saya melamar di sekolah swasta? Haruskah saya belajar untuk seleksi tahap kedua CPNS sambil menunggu pengumuman resmi tentang seleksi tahap pertama yang barangkali saja masih memberikan saya kesempatan mengingat ada perubahan kebijakan? Haruskah saya membuka jasa les privat di OLX seperti yang teman saya lakukan? Atau haruskah saya belajar untuk mempersiapkan beasiswa S2? Benar-benar membingungkan. Kalau saya orang Inggris mungkin saya sudah berucap, "I have no idea."
Tiba suatu hari di mana saya bertanya pada teman-teman dekat saya tentang target hidup mereka, apa yang paling mereka inginkan, dan apa tujuan hidup mereka. Padahal pertanyaan itu harusnya saya tujukan pada diri sendiri, tapi saya malah menanyakan pada orang lain. Sesungguhnya itu dilakukan tidak lain tidak bukan karena mungkin saya bisa menyontek target, keinginan, dan tujuan hidup mereka. Seperti yang telah diniatkan −menyontek−, maka tidak lupa saya juga menanyakan upaya-upaya yang mereka lakukan (sudah maupun akan). Tiap-tiap jawaban yang mereka lontarkan saya catat dan saya rangkum untuk kemudian saya pahami baik-baik.
Mereka menulis mimpi-mimpinya. Pola itulah yang saya dapatkan dari hasil analisis saya. Mengetahui hal tersebut, dengan semangat saya membuka binder masa kecil, catatan harapan setiap awal tahun baru, membaca postingan-postingan lama di blog ini dan catatan lainnya yang mungkin bisa memberikan petunjuk tentang apa-apa yang saya impikan. Setelah lama mencari tahu akhirnya saya menemukan bahwa mimpi saya adalah; menjadi Menteri Pendidikan dan pergi ke luar negeri gratis. Dua hal itulah yang paling saya inginkan dalam hidup ini, dan menengok ke belakang, saya bisa berkata bahwa hal-hal yang saya lakukan adalah dalam rangka mewujudkan mimpi tersebut.
Alasan bermimpi menjadi Menteri Pendidikan adalah untuk aktualisasi diri. Kalau boleh jujur, setelah saya menganalisis diri saya, saya tahu bahwa saya suka menjadi seseorang yang menonjol. Walau tentu saja, saya tidak selalu berhasil, seringkali saya juga menarik mundur diri saya ketika saya tahu bahwa saya tidak akan bisa menonjol di dalam suatu komunitas. Saya berpikir bahwa menjadi Menteri Pendidikan adalah batas kemenonjolan maksimal bagi saya, yang menjadi Presiden biarlah yang lebih kompeten. Maka saya tertantang untuk mencapai batas tersebut.
Lain halnya dengan mimpi pergi ke luar negeri gratis. Variabel-variabel yang mempengaruhi mimpi saya yang satu ini adalah sertifikat A2 yang saya miliki setelah 2 tahun belajar Bahasa Jerman intensif di SMA, novel-novel yang menggambarkan bahwa orang sukses akan dapat beasiswa kuliah di luar negeri, drama Korea yang memvisualisasikan negaranya dengan indah, dan teman-teman dekat saya yang pergi atau bahkan tinggal di luar negeri. Atau bahkan mungkin juga karena saya masih penasaran bagaimana rasanya udara di Jerman setelah menolak beasiswa partially-funded untuk ikut pertukaran pelajar saat SMA. Saat itu, keluarga saya tidak punya uang untuk membayar setengah bagiannya lagi, dan saya belum tahu bahwa saya bisa saja mencari sponsor untuk itu.
Berbekal pemahaman bahwa teman-teman saya menuliskan apa-apa saja yang diimpikannya, akhirnya saya bertekad bahwa saya harus memulai mewujudkan paling tidak salah satu dari mimpi saya. Saya mencari-cari program kepemudaan yang biasanya berupa seminar di luar negeri. Upaya pencarian yang saya lakukan dengan mempertimbangkan jumlah sisa uang di tabungan yang saya miliki serta tentunya kualifikasi dan kemampuan saya, membuahkan hasil penemuan suatu program yang diadakan di Yogyakarta yang hanya menjanjikan bahwa pihak panitia akan memenuhi kebutuhan akomodasi selama acara. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar di program tersebut −untuk kemudian diseleksi oleh panitia, tentunya− saya berkompromi dengan tujuan akhir saya. Saya berpikir bahwa jika saya ingin mewujudkan mimpi saya untuk KE LUAR NEGERI GRATIS, semestinya saya membangun link terlebih dahulu. Toh di sana saya akan menemukan pemuda-pemuda lain yang pasti sudah punya pengalaman yang lebih banyak di program kepemudaan. Saya juga berpikir bahwa tidak akan jadi masalah kalau saya harus mengeluarkan uang untuk sampai ke tempat acara tersebut. Singkat cerita, Fitriah dengan semangatnya yang membara, mendaftarkan dirinya.
Saya mengisi beberapa pertanyaan saat mendaftar; tentang pengalaman memimpin, apa tujuan saja mengikuti program, dan apa yang akan saya lakukan dalam 5 tahun ke depan. Tentu saya memutar otak untuk dapat menjawab, mencari-cari kelebihan yang mungkin bisa saya banggakan, menggunakan bahasa sediplomatis mungkin, bahkan mengorfirmasi Bahasa Inggris saya kepada teman yang lebih menguasainya. Sesaat setelah mendaftar, saya memasrahkan hasilnya sambil berusaha memercayai diri saya karena saya rasa saya telah menujukkan secara maksimal tentang apa yang saya miliki. Apa yang saya punya, itulah yang saya tawarkan dengan maksimal.
Hari demi hari berlalu, tidak terdengar adanya pengumuman hasil seleksi untuk program tersebut. Saya kemudian mengecek e-mail, dan hanya menemukan e-mail ucapan terima kasih atas partisipasi saya dalam program tersebut. Hari-hari berikutnya, saya membuka e-mail setiap pagi, barangkali saya menemukan e-mail pengumuman dari panitia, karena saya tidak menemukan update apa pun di sosial media program maupun pelaksananya. Tiba pada hari di mana program itu dijadwalkan, saya tidak menerima e-mail lain lagi. Saya berpikir sekaligus berharap bahwa acara mungkin saja diundur. Namun, akhirnya pada malam harinya saya melihat update di sosial media program tersebut. Baiklah, ternyata saya memang tidak terpilih.
Tentang kecewa. Siapapun akan merasakannya ketika kita berharap, tapi ya sudahlah. Toh, rasanya masih lebih mending daripada saat saya tahu nilai TKP SKD CPNS saya kurang 4 poin. Kemudian saya jadi tersadar bahwa untuk sebuah program yang sudah saya kompromikan saja saya gagal, bagaimana bisa saya mencapai mimpi saya yang jauh lebih besar. Saya tersadar setelah saya stalking salah satu peserta yang terpilih, btw haha. Dan lagi, saya ingat bahwa ini bukan pertama kalinya saya gagal, setidaknya saya pernah mencoba mendaftar untuk 2 program semacam ini sebelumnya. Yang fully-funded. Sungguh tidak ngukur diri wkwk
Saya pun mengukur diri saya, bukan berat atau tinggi badan, kalau itu saya sudah tahu kok dan tidak perlu diingat-ingat−defense mechanism. Sudah cukup penderitaan manusia penggangguran ini, tidak usah lagi ditambahkan dengan melihat angka di timbangan. Ya, saya mengukur kemampuan saya, tentang apa yang saya punya sebenarnya, dan apakah mungkin saya menjadi pemuda yang dibiayai ke luar negeri, sementara ada banyak pemuda yang lebih pantas. Dan jawabannya adalah tidak. Saya tahu sejak lama sebenarnya, tapi tetap memaksakan diri.
Di sela-sela kekecewaan ini, saya membaca lagi jawaban teman-teman saya atas pertanyaan yang saya ajukan. Saya percaya bahwa teman-teman saya memberikan jawaban terbaiknya, maka saya mencoba memahami lagi tentang mimpi mereka. Saya telaah, dan hasilnya adalah mereka menuliskan mimpi yang realistis. Mimpi yang mereka tahu bahwa mereka dapat mewujudkan, sementara kaki mereka melangkah ke arah sana. Mereka tidak memaksakan diri mereka untuk mengegolkan mimpi yang terlalu 'tidak mungkin' bagi mereka.
Kembali saya pandangi kedua mimpi saya. Itu tidak realistis, bagi saya. Tentu saja keajaiban bisa saja tiba-tiba terjadi, tapi berbekal hasil mengukur diri, kedua hal tersebut terlampau jauh untuk saya capai. Ini bukan soal menyerah. Itu hal yang berbeda. Itu disebut menyerah apabila sebenarnya kita mampu jika berusaha lebih giat. Tapi itu bukan menyerah apabila sebenarnya kita hanya memaksakan diri. Saya rasa, saya hanya berkompromi setelah mengukur diri.
Sekarang tentu saya masih ingin ke luar negeri gratis, tapi dengan jalan lain. Gratis karena dibayarin oleh suami, misalnya? Haha
Mimpi menjadi Menteri, untuk yang satu itu sepertinya saya memang tidak mampu. Menjadi Ketua Umum di organisasi fakultas saja dapat banyak kritik, bagaimana kalau jadi Menteri? Hancurlah pendidikan di negeri ini nanti. Jadi, saya rasa menjadi guru PNS saja sudah cukup. Masalah naik jabatannya akan jadi urusan belakangan, yang penting saya berusaha untuk selalu mengembangkan diri. Lihat, kan? Saya tidak menyerah untuk menjadi PNS. Lagi-lagi karena ini bukan soal menyerah, tapi berkompromi.
(masih banyak salah di penulisan, akan dibenarkan nanti kalau buka laptop)