Jumat, 25 Desember 2015

Saya Tidak Pernah Mengucapkan "Selamat Natal", Mengapa?

Sebetulnya tidak ingin benar-benar menulis ini. Tapi saya tergugah untuk berkomentar, menanggapi, dan menjawab.
Sejak kecil orang tua saya selalu berpesan untuk tidak mengucapkan "Selamat Natal". Saya masih ingat saat dulu bertanya apa alasannya. Ayah saya yang mempunyai titel S.Ag akan selalu menjawab, "Bagimu agamamu, bagiku agamaku." jawaban paling mainstream yang terdengar dari mulut orang yang ditanyakan pertanyaan semacam itu.
Saya menangkap bahwa jawaban Ayah adalah salah satu arti dari ayat Al-Quran, Surat Al-Kafirun ayat 6. Paham akan hal itu, saya kembali bertanya, "Kalau cuma 'selamat' gitu juga nggak boleh?". Orang tua saya lalu menggeleng.
Beberapa tahun berlalu, saya kembali penasaran dengan hal ini. Beberapa orang bahkan memampang besar-besar spanduk bertuliskan, "ORANG ISLAM DILARANG MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL". Saya tersentak. Sebegitu tidak tolerannya kah Islam? Mana arti toleransi yang bahkan juga diajarkan di dalam mata pelajaran Agama Islam?
Saya akhirnya tidak tahan dan kembali bertanya pada orang tua saya, "Kok Islam nggak toleran sih? Orang Kristen kalo Idul Fitri aja ngucapin, tapi kenapa kalo Natal orang Islam nggak boleh ngucapin? Temen-temen Fitria yang Kristen ramai di media sosial bilang begitu.". Orang tua saya pun menjawab, "Kita nggak pernah minta diucapin 'Selamat Idul Fitri', kalo mereka mau ngucapin silakan aja, mungkin dalam agamanya diperbolehkan, tapi udah aturannya kalo kita nggak boleh ngucapin ke mereka."
"Ya tapi kenapa? Katanya Islam agama yang toleran, tapi kok ngucapin selamat aja nggak boleh?" saya kembali menuntut jawaban. "Kalo Fitria ngucapin, sama aja Fitria ikut merayakan. Fitria emang nggak ikut masuk ke gereja dan berdoa di sana, tapi secara nggak langsung Fitria ikut mengakui kalo 25 Desember itu hari lahirnya Yesus. Sementara di agama Fitria gimana? Nggak mengakui adanya Yesus.". Setelah hari itu, saya berpegang pada jawaban yang orang tua saya berikan. Meski masih ada yang terasa mengganjal, saya mencoba terus meresapi jawaban itu baik-baik.
Hingga suatu hari, saya berdiskusi dengan teman saya mengenai hal ini. Saya mencoba menjelaskan pada teman saya, sebagaimana yang orang tua saya jelaskan pada saya. Namun, teman saya juga merasa masih ada yang mengganjal dalam penjelasan itu. Lagi-lagi, permasalahannya adalah di mana letak toleransi dalam Islam? Diskusi itu berlalu begitu saja tanpa jawaban yang pasti.
Tak lama setelahnya, saya mengikuti mata kuliah Konsep Dasar PKn SD dan membahas tentang Pendidikan Multikultural yang di dalamnya mencakup materi toleransi. Tiba saatnya tanya jawab, saya mengangkat tangan untuk menanyakan apa yang masih mengganjal selama ini. Kurang lebih pertanyaan saya, "Bagaimana cara meluruskan persepsi anak tentang toleransi. Sementara di agama Islam, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Lalu ketika umat Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal, seolah-olah Islam tidak toleransi."
Dosen saya manggut-manggut dan memberikan jawabannya, "Kembali lagi, apa makna toleransi itu sebenarnya? Toleransi berarti menghormati perbedaan. Toleransi BUKAN MENCAMPURADUKKAN perbedaan. Ketika umat Kristen mengucapkan selamat idul fitri, mungkin di dalam agamanya itu tidak dilarang. Namun jika umat Islam tidak mengucapkan selamat natal karena dalam agamanya dilarang, maka di sinilah letak toleransinya. Umat Kristen harus paham bahwa umat Islam dilarang dan harus menghormati itu, karena itu adalah sebuah aturan dalam agama Islam. Saat umat Kristen menghormatinya, di saat itulah ada toleransi."
Secara logika, jawaban itu sangat bisa saya terima dengan baik.
Saya dapat mengibaratkan, bagaimana umat Hindu tidak diperbolehkan memakan daging sapi (mungkin tepatnya bukan tidak diperbolehkan, tapi karena mereka menganggap bahwa sapi adalah hewan yang suci), sementara di dalam agama Islam pada Hari Raya Idul Adha, kami bahkan menyembelih sapi, membagikan dagingnya dan mengonsumsinya. Atas nama toleransi, maka yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah tidak membagikan daging sapi tersebut kepada umat Hindu, meskipun misalnya, kedua umat tersebut hidup berdampingan. Bagi umat Hindu tersebut pun, tidak perlu melanggar ajaran agamanya dengan menerima dan mengonsumsi daging yang dibagikan. Dengan memahami dan menghormati aturan yang terdapat di agama Hindu, maka itulah yang disebut sebagai toleransi. Toleransi memang sungguh sesederhana itu.
Maka, saya dan umat Islam lain yang tidak mengucapkan "Selamat Hari Raya Natal, Selamat Hari Raya Nyepi, atau Selamat Hari Raya Waisak" melakukan itu bukan karena tidak toleransi. Itu karena adanya aturan yang tidak boleh dilanggar. Karena pada esensinya agama adalah sebuah aturan. Jika kita melanggar aturan yang ditetapkan dalam sebuah agama, kalau begitu apa gunanya kita beragama, kan?

"It is thus tolerance that is the source of peace, and intolerance that is the source of disorder and squabbling." -Pierre Bayle



*tentang pengertian toleransi, saya sarankan untuk membaca yang lebih ilmiah dari sekedar tulisan ini
*dialog antara pertanyaan dan jawaban di atas tidak sama persis seperti aslinya, tetapi maknanya tetap sama

Jumat, 30 Oktober 2015

Prioritas

Beberapa hari yang lalu saya kembali mendengar kalimat, "No one is really busy. It is based on their priority list.". Entah mengapa, saya suka dengan kalimat itu. Ya, tidak ada seorang pun yang benar-benar sibuk. Jika seseorang lebih memilih mengerjakan sesuatu dibandingkan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang dipilih itulah prioritasnya.
Hidup itu pilihan. Kata motivator sih, antara b (born) dan d (die) ada c (choice). Memang dasar motivator bukan orang sembarangan, diantara kelahiran dan kematian benar-benar selalu ada pilihan. Memilih pasangan hidup misalnya #eh
Back to the topic. Pukul 19.00 tadi seharusnya saya dan adik perempuan saya sedang duduk di bangku bioskop dan bersiap cekikikan karena tingkah si Mutan Kwangsoo. Ekspektasi tentang bioskop yang akan saya tapaki itu berkeliaran sejak kemarin sebelum tiba-tiba tadi pagi mendapat pesan untuk mengisi shift mengajar dari kepala cabang bimbel tempat saya berstatus sebagai Tutor Freelance. Seketika itu juga bayangan Kwangsoo memudar, mengingat prioritas.
Janji dengan Fadia -adik perempan saya- akhirnya dibatalkan. Hingga pukul 20.00 bahkan saya masih berkutat dengan anak-anak yang membayar untuk bekal Ujian Nasional mereka. Bukan lantai bioskop yang saya tapaki, tapi lantai sebuah rumah yang disulap menjadi tempat bimbel. Inilah pilihan saya, tentang tanggungjawab.
Tidak ada yang benar-benar ingin saya tegaskan dari tulisan ini sebetulnya. Lagipula ini hanya sekedar celotehan iseng di malam hari. Inginnya, orang-orang bisa mengerti mengapa kadang seseorang tidak bisa membersamai mereka. List prioritas bersifat tentatif. Meski seseorang mungkin lebih memilih untuk berleha-leha di atas kasur, percayalah, itu prioritas mereka. Tanggungjawab pada waktu istirahat tubuh kan bisa saja.
Tidak ada orientation, complication dan resolution dalam tulisan ini. Tanpa prolog dan epilog pula. Kalimat ini kalimat terakhirnya.

Minggu, 18 Oktober 2015

Mati

Mati sudah
Dewa tak kan pernah menuruti perintah
Meski beribu kali kau ucap kata "jangan"
Ketakutan hanya akan jadi kenyataan
Lupakan saja
Subjek itu terlampau jauh
Hamparan jejak berserakan percuma
Meringkuk, berlutut, menunduk
Usang sudah semua kebahagiaan

Minggu, 28 Juni 2015

ChocoChoi's

Assalamu'alaykum!
Saya mau promosi lagi nih hehe
Jadi, seperti tahun sebelumnya, saya jualan praline cokelat. Tapi ada yang berbeda. Apa yaa?
Sekarang ganti nama dari sebelumnya 'die Schokolade' menjadi 'ChocoChoi's'🍫
Kenapa ganti nama? Gpp, pengen aja.
Kenapa jadi ChocoChoi's? Gpp, suka aja. Apa perlu alasan utk suka? (haha abaikan ini apa coba?)

Langsung aja ya, nih nih menunya:

1. Choco - 30 ribu
Choco adalah cokelat yang dicetak berbentuk kupu-kupu. Rasanya manis dan sedikit pahit karena ini dark chocolate (lain waktu akan saya beri pencerdasan soal ini).

2. Rainbow Choco (2 warna) - 30 ribu
Nah, yang ini cokelatnya dibuat dengan 2 warna. Tinggal pilih, mau warna apa. Pilihannya: pink, blue, violet, dan yellow.

3. Rainbow Choco (3 warna) - 35 ribu
Kalau yang ini, cokelatnya dilapis 3. Wah, kebayang kan 3 kenikmatan dalam 1 gigitannya? Hihi untuk warna silahkan dipilih, pilihannya sama seperti yang di nomor 2.

4. Vanila/pink/blue/violet/yellow/tiramisu/cappucino - 30 ribu
Bagi pecinta cokelat, pasti tahu kalau ada cokelat yang putih. Dari cokelat yang putih ini berkembang menjadi berbagai warna dan rasa. Jadi jangan salah, yang pink itu rasanya stoberi, yg blue rasanya mint, violet rasa blueberry, dan yellow rasa lemon. Sedangkan tiramisu dan cappucino, cokelatnya sudah jelas rasa tiramusi dan cappucino. Ayo pecinta kopi! Hehe

5. Choco + selai - 35 ribu
Istilah keras diluar, lembut di dalam cocok banget untuk menu satu ini. Dark chocolate dipadu dengan manisnya selai...... Jangan bayangin rasanya pas puasa ya hehe untuk pilihan selainya ada selai strawberry dan blueberry.

6. Vanila/pink/blue/violet/yellow/tiramisu/cappucino + selai - 38 ribu
Yang suka cokelat warna-warni dengan selai di dalamnya, cocok banget dengan menu ini. Pilihan selainya sama seperti nomor 5.

7. Choco + isian lain - 38 ribu
Isian lain? Apa aja tuh? Ada kokokrunch, oreo, kurma, kismis, dan kacang mede. W.O.W! Tinggal pilih aja tuh mau apa sebagai campuran dark chocolate yang nikmat.

8. Vanila/pink/blue/violet/yellow/tiramisu/cappucino + isian lain - 38 ribu
Cappucino dan tiramisu enak lho dicampur kacang mede. Best seller dari tahun ke tahun hehe mau coba sensasi rasanya? Sok atuh diorder!

Cara ordernya bagaimana? Bisa sms atau Whatsapp ke nomor 085776168605, bisa juga line ke fitriahch, bisa juga BBM ke 5775AD8F. Mudah kan?
Untuk mengantar pesanannya bagaimana? Wilayah Jakarta bisa COD atau ketemuan aja dengan saya. Nanti diatur kapan dan di mananya. Untuk luar kota, menggunakan jasa kirim yang ongkirnya dibayar pembeli hehe
Dan bagi yang mau liat penampakan asli cokelatnya, main-main aja yuk ke rumah Jl. Sambiloto 3 no. 25 RT/RW: 11/6 Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur.

Nb: postingan ini dibuat di hp, jadi fotonya tidak bisa ikut dilampirkan. Silahkan lihat foto-fotonya di instagram: chocochois

Jumat, 05 Juni 2015

#EaaForIndonesia

Nikmatnya rasa kasur. Setelah seharian di luar rumah, kasur punya rasa yang lebih nikmat dari biasanya.
Saya pergi menonton bulutangkis sejak sekitar pukul 11 pagi tadi. Bersama dua orang teman saya. Kami berangkat dengan menumpangi transjakarta dan sampai Istora Senayan 1,5 jam setelahnya.
Kami sepakat untuk membeli tiket class 2 seharga 50.000. Tiket yang paling murah. Maklum saja, kantong mahasiswa. Bisa menonton langsung pun sudah bahagia, meski tak lagi sebahagia saat pertama kalinya. Ya, ini kali kedua saya menonton Indonesia Open.
Tahun lalu latar belakang keinginan saya menonton langsung adalah melihat pemain tampan asal Korea, Lee Yong Dae. Baik di televisi mau pun aslinya, wajah rupawan Lee Yong Dae memiliki pesona tersendiri. Berbeda dengan tahun ini. Saya ingin datang untuk mendukung Indonesia. (ini rahasia: sejujurnya karena ingin melihat ketampanan Jonatan juga haha)
Pertandingan pertama diawali oleh ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda vs Luo Ying/Luo Yu. Suara bising mengisi tiap sudut istora. Para suporter berteriak dengan kompak, "In-do-ne-sia" dilanjutkan dengan tepukan balon yang dibagikan oleh panitia. Tak lupa andalan kami, "Huu" tiap kali lawan mengembalikan bola dan "Eaa" tiap kali pemain Indonesia balas mengembalikannya.
Greysia Polii dan Nitya Krishinda bermain dengan mulus. Set pertama berhasil mereka menangkan.
Namun, di akhir-akhir set kedua kami semua dibuat deg-degan karena skor yang terus kejar-kejaran. Para suporter terus bersorak memberikan semangat hingga akhirnya ganda putri ini berhasil memenangkan pertandingan dalam 2 set. Suporter meloncat-loncat kegirangan lalu membuat wave yang tidak putus-putus karena bergerak memutar.
Selanjutnya giliran pasangan ganda campuran Owi/Butet yang unjuk gigi. Di awal pertandingan, Owi sering sekali membuat kesalahan sendiri seperti sedang tidak fokus. Seorang suporter bapak-bapak yang duduk di depan saya sepertinya merasa geregetan dan berteriak memberi semangat secara pribadi kepada Owi dan Butet. "Butet! Kau bisa, Butet!" serunya dengan logat Batak. Kemudian ia berteriak lagi dengan logat Jawa, "Ahmad, kamu iso! Bejo neng kene." entah apa maksudnya, tapi itu berhasil membuat suporter lain tertawa karena tingkahnya.
Ditengah pertandingan tiba-tiba terdengar soundman memanggil Lee Yong Dae untuk bermain di court 2. Fokus saya terpecah. Antara ingin tetap setia menonton Indonesia dan melirik ke court sebelah. Ujung-ujungnya, saya memperhatikan dua court secara bergantian. Merekam smash keras Lee Yong Dae dan kelincahan Butet bersamaan. Bukankah multitasking sedang populer? Haha
Pertandingan Owi/Butet berakhir sementara si tampan asal Korea masih berjuang di court sebelahnya. Owi/Butet melenggang ke semifinal esok hari. Dasar tidak setia, jeda menuju ke partai selanjutnya saya manfaatkan untuk mengagumi permainan Lee Yong Dae.
Partai selanjutnya diumumkan. Ternyata Jonatan lah yang akan bermain selanjutnya. Baiklah, sekarang saya benar-benar tidak dapat menggambarkan situasinya.
Galau.
Bimbang.
Harus fokus ke mana?
Lagi-lagi akhirnya saya melakukan multitasking.
Di court 2, Lee Yong Dae sedang gigih meraih poin demi poin. Di court 1, Jonatan justru kelihatan tak begitu bersemangat melawan pemain asal Denmark. Atau mungkin bukan tidak bersemangat, tapi kelas mereka memang berbeda. Jonatan baru saja bermain di Indonesia Open kali ini. Ia adalah atlet muda yang berhasil masuk quarter final pun sudah luar biasa.
Akhirnya, Jonatan tumbang dalam 2 set. Tidak apa-apa. Saya pribadi memang tidak terlalu berharap ia menang. Bisa sampai di titik ini, ia sudah hebat.
Lindaweni mengisi partai selanjutnya. Sayangnya, seperti Jonatan, keberuntungan belum berpihak pada Lindaweni. Tapi kerja kerasnya sudah cukup mengagumkan. Di court sebelah (hasil melirik) Lee Yong Dae dan rekannya (lupa namanya) telah berhasil memenangkan pertandingan setelah long set.
Selanjutnya, Ahsan dan Hendra beraksi. Ganda putra ini bermain dengan cepat dan membabat habis lawan nyaris tanpa hambatan. Tak ada lagi yang dapat dikomentari, hanya perlu diacungkan jempol. Namun saat Ahsan-Hendra unjuk kebolehan, 2 court lainnya juga diisi oleh pemain Indonesia. Fokus suporter akhirnya terbagi 3.
Kami menunggu hingga sekitar pukul 19.00 untuk pertandingan Antony. Selama menunggu, saya asyik memperhatikan suporter asal India yang mengibarkan benderanya sambil berteriak-teriak, "India! India!". Pemain tunggal putri India memang sedang bertarung melawan utusan China. Entah bagaimana ceritanya, suporter Indonesia dan India ini bersekutu untuk mendukung India. Lucunya bentuk dukungan mereka adalah dengan beberapa kali menyanyikan lagu India. Sukses mengocok perut. Dengan bangganya suporter India itu bernyanyi hingga saya rasa mereka agaknya lupa tujuan kehadiran mereka untuk mendukung pemain asal India. Mereka justru sibuk menambah relasi dengan beberapa orang Indonesia yang turut mendukung negaranya.
Sampai pada pertandingan terakhir yang kami tunggu. Antony berhasil memenangkan set pertama namun spiritnya seolah berkurang dan membuat lawan mendesaknya untuk long set. Dan akhirnya Antony menyerah.
Malam sudah larut. Kami bergegas pulang ke rumah. Tak lupa sebelumnya kami mengambil beberapa foto di istora. Ada banyak sudut yang pantas diabadikan di sana.
Hari ini menyenangkan. Tapi lelah berteriak-teriak menghabiskan suara. Suara saya sepertinya akan serak besok.
Baiklah, sekian. Selamat istirahat, fit.

Sabtu, 30 Mei 2015

Lebih dari Cita-cita

Postingan ini sebenarnya sudah ingin dibuat sejak beberapa hari lalu. Kata-katanya sudah terangkai di kepala saya namun belum sempat dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Belakangan ini tugas kuliah semakin menggila. Beberapa dosen mata kuliah juga sudah mulai mengadakan UAS. Mengajar dan kegiatan organisasi pun membuat hampir setiap harinya saya sampai di rumah pada malam hari dengan tubuh tanpa tenaga. Ternyata begini toh rasanya jadi anak kuliahan.
Sudah cukup dengan prolognya yang lebih mirip dengan curhatan, jadi postingan seperti apa sih yang sudah saya rangkai kata-katanya sejak lama ini?
Ini adalah hutang saya di bulan Mei kepada Kombun (Komunitas Blogger UNJ).
Bermula dari anak les saya, Febi, yang setelah kami melaksanakan sholat magrib bersama tiba-tiba mencetuskan kata-kata, "Ayah kakak guru, kakak juga mau jadi guru. Gimana gitu menurut aku. Masa' nggak mau lebih dari orangtua sih, kak?"
Saya mencerna kata-katanya sebelum akhirnya balik bertanya, "Kalau gitu harusnya jadi apa dong?"
"Jadi dokter kek, kak. Atau apa gitu yang lebih tinggi dari guru."
Saya tersenyum. Lalu menanggapi sambil bercanda, "Yang lebih tinggi dari guru ya? Hmm... Kalau gitu kakak jadi Kepala Sekolah aja deh,"
"Atau jadi Menteri Pendidikan deh sekalian." lanjut saya. Febi tertawa, tidak menanggapinya dengan serius.
Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Febi terus terngiang. Sambil menikmati perjalanan di angkot saya memikirkan kata-kata Febi. Menjadi guru terdengar begitu sederhana, tidak seperti dokter yang terdengar hebat.
Lalu pikiran saya sampai pada masa di mana saya masih duduk di Sekolah Dasar (sekitar kelas 5 atau 6). Saya ingat dengan jelas bagaimana cara saya bermain peran sebagai seorang guru. Dengan spidol hitam di tangan, saya mengetuk-ngetuk papan tulis kecil-media pembelajaran milik ayah yang ada di rumah-yang sudah bertuliskan huruf latin bahasa Arab. Adik saya dan temannya-anak tetangga-duduk berhadapan dengan saya seolah-olah mereka menjadi murid yang begitu setia mendengarkan gurunya. Mereka belum belajar bahasa Arab, tentu saja karena mereka masih berstatus anak TK. Untuk membaca pun mereka masih terbata-bata. Sedangkan saya sendiri mempelajari bahasa Arab di TPA.
Saya membacakan huruf latin yang tertulis di papan, kemudian mereka mengulang kata-kata saya setelahnya. Dengan sok tahunya, saya mengajarkan bahasa Arab mengenai bagian tubuh. Melihat mereka belum cukup paham apa yang saya ajarkan, saya mencoba cara lain. Tangan kanan saya menyentuh mata saya, kemudian berkata, "Ainun". Mereka lalu mengikuti kata-kata dan gerakan tangan saya.
Wajah mereka terlihat lebih memahami apa yang saya ajarkan. Namun saya belum juga puas. Entah mendapat ide dari mana, saya membuat lagu bahasa Arab-nadanya dikarang sendiri-tentang bagian tubuh. Dimulai dari mata, hidung, dan seterusnya. Mereka terlihat senang dan semakin paham.
Saya tersenyum lebar. Meski kami hanya bermain, ilmu yang saya punya telah berhasil saya bagikan kepada mereka. Keesokan harinya, adik saya dan temannya meminta untuk bermain guru-guruan lagi. Menjadi guru sangat menyenangkan.
Saya juga teringat saat saya bermain dokter-dokteran. Saya berperan sebagai dokter dan berpura-pura mengobati teman saya yang sakit. Perlengkapan bermain kami sangat sederhana, seperti pensil yang dijadikan jarum suntik.
Teman saya bergantian menjadi pasien, hingga sebelum permainan benar-benar berakhir saya menjadi bosan. Tidak lain yang dapat saya lakukan hanyalah menyuntik lalu memberikan resep obat.
Menjadi dokter tidak begitu menarik bagi saya, menjadi guru justru lebih mengasyikan. Saat bermain dokter-dokteran saya tidak bisa benar-benar menyembuhkan teman saya yang sakit. Berbeda dengan saat bermain guru-guruan yang membuat saya benar-benar bisa membagikan ilmu yang saya miliki. Barangkali itu sebabnya saya memilih guru sebagai cita-cita saya.
Cita-cita yang terlalu rendah? Ya, anggap saja begitu. Namun, melihat ayah saya yang banting tulang bekerja sebagai Guru Honor, bukankah sudah menjadi lebih tinggi ketika saya bercita-cita sebagai Guru PNS? Ayah sendiri selalu berharap saya melanjutkan kuliah ke jenjang S2 agar bisa menjadi Kepala Sekolah atau bahkan Pengawas.
Saya sebagai seorang individu yang ingin mendapat pengakuan di dunia kini juga mempunyai keinginan untuk menjadi seorang Menteri Pendidikan. Entah seberapa besar kemungkinannya karena yang saya tahu untuk menjadi Menteri yang harus dilakukan adalah mendekati calon Presiden.
Dibalik semua itu, menjadi pendidik kini bukanlah hanya sekedar cita-cita masa kecil. Namun juga karena keinginan untuk merubah dunia dari hal paling mendasar. Saya yakin dengan menjadi pendidik saya akan menjadi seseorang yang tak kenal lelah membagikan ilmunya. Menjadi sosok yang lebih dari orangtuanya.

Postingan ini dipersembahkan untuk KOMBUN @BLOGGER_UNJ pada edisi #MEI2015

Senin, 23 Februari 2015

18

00.39
Jarang-jarang saya merasa tidak mengantuk sampai jam segini, padahal kemarin saya tidak tidur siang. Jadi sambil menunggu rasa kantuk datang, saya menulis ini. Postingan tentang ulang tahun ke 18.
Seperti biasa, bagaikan tradisi di keluarga kami untuk makan di luar setiap kali ada anggota keluarga yang berulang tahun. Kali ini kami sekeluarga makan di restoran Radja Gurame di daerah Taman Solo, Cempaka Putih. Padahal saya dengan bawelnya menuntut untuk makan di restoran Korea, biasa lah Korean drama effect. Tapi tak apa, dimanapun asal bersama keluarga pasti spesial 'kan?
Tidak dirayakan sesuai tanggalnya, saya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali merengut sebal. Ayah dan ibu sudah punya jadwal acara keluarga yang penting tanggal 21 kemarin. Jadi kami baru sempat merayakan tanggal 22.
Meski begitu, sebelumnya di hari h-sesuai feeling saya-'menel-menel' datang ke rumah. Menyanyikan lagu Happy Birthday sementara saya sedang di kamar di lantai atas. Membawa kue dengan entah berapa lilin kecil diatasnya, mungkin 18.
Kami melepas rindu dengan bercandaan dan tertawa keras-keras hingga sekitar pukul 20.30. Tidak lupa juga foto-foto sampai kehabisan gaya. Jarang-jarang kami bisa berkumpul tanpa kurang satu personel pun. Sekali lagi, terimakasih, kawan. Keep menel!
Pertanyaan ayah dari tahun ke tahun, "Fitria mau kado apa?"
Biasanya saya akan langsung menyebutkan satu per satu barang yang saya inginkan, tapi tahun ini entahlah, malu rasanya untuk meminta ini itu. Saya menggeleng. Tetap sehat, punya teman-teman yang peduli dan bisa berkumpul dengan keluarga seperti sekarang sudah lebih dari cukup.
Doa.
Doakan saja.

Jumat, 20 Februari 2015

17

20 Februari 2015.
Hari terakhir berusia 17 tahun. Setelah iseng melihat-lihat postingan yang ada di blog ini, saya baru menyadari saya tidak membuat postingan tentang ulang tahun saya yang ke 17. Padahal saya membuat postingan saat berulang tahun ke 15 dan 16. Aneh juga, bukannya orang-orang justru lebih mengistimewakan ulang tahun ke 17? Tapi saya malah melongkapnya haha barangkali karena terlalu istimewa sampai lupa membuat postingan *eh
Angka 17 itu tak lama lagi akan berubah menjadi angka 18. Wah, sisa umur saya semakin berkurang saja. Ingin rasanya terus hidup di usia belasan tahun. Membayangkan pada usia 20 tahunan saya sudah harus bekerja dengan produktif, lalu menikah dan tidak tinggal bersama orang tua lagi membuat saya bertanya-tanya, "sanggupkah?". Haha dasar manja!
Meski begitu, waktu tidak mungkin berhenti barang sedetik. Itu yang harus saya pahami. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, tahun demi tahun....semua akan terus berjalan. Tidak perlu berkejar-kejaran dengan waktu, saya-kita semua-hanya perlu menikmatinya. Menjadikan setiap detik sebagai kenangan yang indah nantinya.
Saya harus menjadi lebih dewasa, apalagi sebagai seorang calon guru SD (aamiin) yang harus mampu menjadi orang tua bagi murid-muridnya. Masih ada banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, saya pasti bisa.
Oh ya, mengenai ulang tahun ke 17, saya senang bisa merayakannya bersama teman-teman yang sekarang sudah berpencar untuk mengejar cita-citanya masing-masing. Mereka juga memberikan kado yang sangat spesial. Mereka peduli dengan keinginan saya. Lebih dari itu, mereka peka dengan kode saya haha
Kawan, bagaimana kabar kalian? Kalau Allah mengizinkan, entah di ulang tahun saya yang keberapa nanti, bisakah kita berkumpul untuk merayakannya lagi? Tahun ini terlihat sangat tidak memungkinkan.
Tidak ada yang saya harapkan tahun ini selain bisa menjadi orang yang lebih baik dan mungkin sekedar ucapan??
Ralat, bukan harapan. Harapan yang gagal hanya membuat kecewa. Maka saya akan menyebutnya sebagai doa. Tinggal Allah yang memutuskan lebih baik dikabulkan atau tidak. Jika dikabulkan, saya akan sangat bersyukur. Jika tidak, saya tidak akan kecewa karena saya tahu keputusan Allah tidak pernah salah.

Nb: terimakasih kadonya, akhir-akhir ini saya terus memutar cdnya.

Kamis, 29 Januari 2015

Kadang aku suka berpikir
Buat apa aku mendebatmu
Jika kau hanya ingin tahu apa warnaku
Dan kita sama-sama tahu
Bahwa kita tak kan pernah saling mewarnai
Warna kita
Tak pernah berpadu

Maka jangan salahkan, jika aku menjadi kaku
Membeku
Dan lidahku pun kelu
Tapi kau harus tahu

Bahwa,
Inilah aku

(Menemukan tulisan ini di buku curhat Fide. Entah siapa yang menulisnya. Tidak bermaksud mencuri hak cipta, hanya suka saja dengan kata-katanya.)