Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Istiqomah

Sebenarnya hari ini (22/10/2014) hanya ada satu dosen yang masuk kelas-dosen K.D.IPS, itupun selesai sebelum jam mengajarnya habis. Tapi setiap mata kuliah dosen tersebut, kami ditugaskan untuk mengerjakan soal latihan yang ada di modul sesuai dengan bab yang kami presentasikan secara berkelompol dengan bergantian.
Hingga pertemuan kali ini, sudah ada 5 kelompok yang maju presentasi. Itu artinya, di buku kami sudah harus penuh terisi oleh soal latihan dari 5 bab yang sudah dipelari. Saya hanya bisa menatap nestapa buku saya yang baru terisi 3 halaman. Soal bab 1 yang bahkan belum selesai setengahnya.
Kebiasaan buruk menunda-nunda pekerjaan sejak SMA masih terbawa hingga sekarang. Susah sekali menghilangkan kebiasaan buruk itu. Apalagi soal latihan itu terdiri dari soal essay dan pilihan ganda yang pertanyaannya sama sekali tidak menarik untuk saya baca. Soal-soal tersebut benar-benar menguji nalar. Jadi ingat mandat ayah saya, "Fitria udah naik jabatan.".
Cukuplah dengan berbagai alasan itu, intinya saya harus bisa menyelesaikan soal-soal itu sebelum UTS yang katanya akan diadakan 2 minggu dari sekarang. Ini adalah konsekuensi yang harus saya tanggung. Alhasil, saya ngebut mengerjakan soal-soal tersebut. Setidaknya saya harus bisa menyelesaikan sampai bab 3.
Hingga pukul 1/2 2 siang, saya berkutat mengerjakan hingga tangan saya terasa keram. Penyesalan memang selalu datang belakangan, harusnya saya mengerjakan dari dulu. Bersenang-senangnya seharusnya belakangan saja daripada bersusah-susah belakangan seperti sekarang.
Sambil berbincang-bincang ringan dengan teman, saya tetap mengerjakan soal. Hingga salah seorang teman saya mengajak saya untuk ikut ke rumbel ceria hari ini. Sebenarnya rumbel ceria sudah menjadi agenda saya di hari Sabtu tapi saya belum pernah sekali pun mengajar di rumbel pada hari Rabu.
Alasan saya tidak datang pada hari Rabu adalah karena rumbel akan selesai sore menjelang magrib sehingga dapat dipastikan jam pulang saya dari kampus E berbarengan dengan orang yang pulang kerja. Saya mungkin tidak sanggup berdesak-desakan di halte Dukuh Atas yang di jam pulang kerja banjir calon penumpang TJ.
Namun kali ini teman saya ada yang membawa motor dan mengajak saya untuk ikut bersamanya ke rumbel. Akhirnya saya menutup buku K.D.IPS saya yang sudah terisi soal latihan bab ke 4 dan pergi ke rumbel.
Di rumbel saya mengajar siswa kelas 1, ada 5 orang anak yang saya ajar. Materi kali ini yaitu berhitung. Maka saya memberika beberapa soal untuk mereka jawab.
Ternyata mengajar rumbel di hari Rabu lebih sulit. Saya cukup kewalahan menghadapi 5 orang anak ini. Ada yang mengerjakan soal sambil menyandarkan badannya pada saya, ada yang menjawab pertanyaan saya dengan teriakan, ada pula yang terus memanjat-manjat pagar. Sampai beberapa kali saya harus menggendong anak-anak itu agar turun dari pagar yang dipanjatnya.
Kakak senior di rumbel mengatakan bahwa setiap hari Rabu, rumbel memang kekurangan pengajar. Sehingga dampaknya para pengajar yang ada jadi kewalahan. Kakak senior di rumbel juga sangat mengharapkan kehadiran kami lagi di hari Rabu yang akan datang.
Setelah melakukan evaluasi dan sholat magrib di kampus E, saya dan teman saya pun bergegas pulang. Tapi ternyata perjalanan pulang tidak semudah itu. Jalan yang kami lalui macet. Apalagi di Manggarai.
Kepulan asap cukup membuat napas sesak, entah berapa desibel suara menpolusikan pendengaran saya. Meski hanya sekedar duduk diboncengan ternyata cukup membuat pegal juga.
Kesimpulan hari ini; hari yang cukup melelahkan. Dan saya masih belum bisa memutuskan akan hadir lagi atau tidak Rabu depan. Yang sulit bukanlah melakukan hal yang baik tetapi TETAP melakukan kebaikan. Menjadi orang yang istiqomah lah yang sulit.
Ada beberapa kutipan yang saya dapatkan hari ini:
1. Jika hari ini ada 10.000 orang yang melakukan kebaikan, dapat saya pastikan saya menjadi salah satunya.
Jika hari ini ada 1000 orang yang melakukan kebaikan, dapat saya pastikan saya menjadi salah satunya.
Jika hari ini ada 100 orang yang melakukan kebaikan, dapat saya pastikan saya menjadi salah satunya.
Jika hari ini ada 10 orang yang melakukan kebaikan, dapat saya pastikan saya menjadi salah satunya.
Jika hari ini hanya ada 1 orang yang melakukan kebaikan, maka saya lah orangnya.
Dan jika hari ini tidak ada orang yang melakukan kebaikan, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada saya.
2. Tidak penting ada berapa banyak orang yang bisa dihitung, yang penting kita harus menjadi orang yang bisa diperhitungkan.

Senin, 20 Oktober 2014

Pemimpin Baru

Hari ini (20/10/2014) sejak baru membuka mata, grup whatsapp sudah ramai dengan omongan teman-teman sejurusan yang mengajak untuk aksi menyambut pelantikan presiden baru. Ada yang berapi-api meyakinkan kawan-kawannya untuk ikut, ada yang mengutarakan bahwa ia tidak mendapat izin dari orangtua, ada pula yang hanya sekedar mengingatkan untuk berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet di jalan ke kampus. Saya sendiri termasuk golongan yang kedua; tidak ikut aksi karena tidak diizinkan orangtua.

Orangtua saya bilang, “Nanti kena gas airmata lho!”. Saya pun tidak berkomentar. Jujur saja, sampai saat ini masih ngeri juga untuk ikut-ikut aksi. Dari awal masuk kuliah pun, tak terbesit di benak saya tentang aksi sama sekali. Padahal mahasiswa sebenarnya sudah identik dengan aksi.

Sambil sarapan, saya menyalakan televisi dan menonton berita mengenai presiden dan wakil presiden terpilih-JokowiJK. Ada beberapa hal yang saya tangkap dari berita yang disiarkan:
1. Ibu negara tidak memakai jilbab (seingat saya dulu ketika pencoblosan ibu negara memakai jilbab, sebenarnya tidak ada urusannya juga dengan saya, tapi hanya sedikit bingung saja)
2. Bapak Presiden mempunyai 3 orang anak; 1 perempuan , 2 laki-laki.
3. Pak Jokowi bilang ia hanya sarapan dengan pisang sepotong dan jamu.
4. Pak JK memakai jas yang sama dengan yang beliau kenakan saat pelantikan tahun 2004 lalu.
Sisanya saya lupa, lagipula saya hanya menonton sekilas.

Selain itu, ada juga berita tentang rekayasa lalu lintas hari ini. Setelah menyimak dengan seksama, ternyata tidak ada rekayasa lalu lintas di jalur busway yang harus saya tempuh untuk ke kampus. Pulogadung-Dukuh Atas aman. Jadi saya tidak perlu berangkat lebih pagi. Saya hanya berangkat 30 menit lebih pagi, itupun karena hari ini kelompok saya harus mempersiapkan untuk presentasi mata kuliah Pendidikan Jasmani.

Seperti biasa, dari halte busway Dukuh Atas 2, saya jalan kaki menuju kampus. Ternyata di daerah tersebut cukup ramai. Saya lihat ada beberapa kopaja dan metromini yang terparkir. Di kaca metromini dan kopaja itu terdapat tulisan ‘Rombongan SMPN 265’(ini kalau tidak salah, saya agak lupa). Yang ada dipikiran saya, itu barangkali rombangan karya wisata.

Namun seketika pikiran saya berubah saat melihat anak SMP yang sepertinya anak SMPN 265 itu, berkumpul di sekitaran situ dengan pakaian bertuliskan ‘Terimakasih Pak SBY’. Mereka juga menggenggam bendera merah putih dari plastik. Sebagian besar dari mereka duduk di koridor sambil memakan jajanan. Sungguh sangat disayangkan, sampah bekas jajanan mereka terlihat berantakan. Tidak dibuang ditempatnya.

Di sekitar situ ternyata juga ada beberapa TNI. Mereka mungkin mengamankan wilayah yang akan dilalui presiden. Banyak diantara mereka yang sedang berdiri di koridor tapi ada pula yang sedang duduk dipinggir koridor sambil memakan gorengan. Semoga saja aparat negara itu membuang sampah pada tempatnya.

Jarak antara halte busway dan kampus saya cukup jauh. Jadi selama saya berjalan kaki ada banyak juga hal yang cukup menarik perhatian saya namun tidak saya ceritakan. Ketika sampai di kampus PGSD tercinta, saya melihat beberapa orang teman saya sudah siap siaga untuk ikut aksi.


Karena saya tidak ikut aksi, saya hanya akan menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah mengemban tugas yang berat selama 10 tahun ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla. Semoga Indonesia menjadi lebih baik setelah kepemimpinan Anda. Jangan lupakan juga janji yang sudah diucapkan, dan tolong hiraukan 7 Tuntunan Rakyat yang sudah teman-teman saya sampaikan lewat aksi mereka.