Selasa, 21 Februari 2017

Kepala Dua

"Sekarang, kepalanya ada dua. Kalau masih tidak bisa mengendalikan ego, hancurlah sudah."

Analogi sederhana tentang kata polisemi "kepala" cukup tepat juga. Sifat egois adalah manusiawi. Tapi mengendalikan ego adalah tugas manusia. Manusia harus mengendalikan sifat manusiawinya agar menjadi manusia sesungguhnya.
Hidup bukan hanya tentang makan, tidur dan bekerja. Hidup itu untuk merasakan bahagia, kecewa, marah, sedih, dan harap. Karena itu Tuhan menciptakan manusia lain di sekelilingnya. Menengok ke belakang, Hawa pun diciptakan untuk menemani Adam.
Seiring waktu berlalu, manusia belajar dari perasaan-perasaan yang muncul. Manusia memilah mana yang benar dan salah. Yang benar terus dilakukan, yang salah diperbaiki. Meski nyatanya benar dan salah kadang sulit dibedakan. Meski nyatanya benar dan salah berubah menjadi relatif akibat keegoisan.
Maka, setelah satu kepala kembali lahir dengan ego baru, ada dua kemungkinan terbesar; bertengkar karena berbeda atau bersatu karena sama. Kemungkinan pertama bagaimana pun sudah negatif, sementara kemungkinan kedua akan menyakiti manusia lainnya. Rumusnya; ego + ego = keras kepala
Tapi ada satu kemungkinan lain, yaitu mengendalikan ego. Meski hanya kemungkinan kecil, tapi itu bukan pengingkaran yang tidak akan terjadi. Pengendalian akan meciptakan damai, dalam diri sendiri dan di antara orang lain.
Ini sebenarnya hanya pesan untuk diri sendiri. Untuk mengingatkan bila sewaktu-waktu lupa. Seperti ego, lupa juga merupakan sifat manusia.
Semoga kedewasaan melengkapi perjalanan ke depan. Semoga orang-orang tersayang kan tetap menjadi teman seperjalanan. Semoga ego tidak mengacaukan jalan yang masih panjang.

Jakarta, 21 Februari 2017
Seorang mahasiswi yang akhirnya genap berusia 20 tahun