Senin, 01 Januari 2018

Pilek Sepanjang Tahun

2017 telah berlalu.
Tahun penuh warna dan penuh makna.
Tidak ada yang berjalan dengan mudah, untuk dapat melalui semuanya, dibutuhkan usaha ekstra. Seorang yang cuek bebek—tidak peka walaupun ada kecelakaan di depan mata karena pikirannya kemana-mana—seperti saya, sungguh, 2017 dipenuhi berbagai tantangan.
2017 menuntut saya melakukan  banyak penyesuaian; rumah baru, menjadi pengawas TPS, terpilih sebagai ketua forum penulisan kampus, menjadi pimpinan sidang, jadwal kuliah di siang hari, kehilangan sosok seorang kakek dan seorang nenek, mengikuti KKN di rusun, mengajar di sebuah SD, menjadi seorang pramuka, hingga mulai menyusun tumpukan kertas penelitian yang bisa ditukar dengan ijazah.
Duka cita senantiasa menemani. Teringat saat dengan melankolisnya menangis karena harus meninggalkan rumah lama, saat terpilih jadi ketua, dan saat kehilangan kakek Emi dan nenek Mul. Teringat pula saat bahagia menerima amplop honor mengawas TPS, dan saat......apa ya? Sepertinya hanya itu yang buat saya bahagia. Saya lebih ingat saat-saat menyebalkannya, saat harus berpanas-panasan di perjalanan ke kampus, saat harus menjadi pimpinan sidang karena sang ketua lembaga tidak hadir, saat menunggu transjakarta mini menuju rusun tempat KKN, saat menghambur-hamburkan uang demi sebuah media pembelajaran, saat memakai baju pramuka di akhir pekan yang indah, dan mengerjakan revisi yang tidak ada habisnya. Tukang mengeluh seperti saya memang punya lebih banyak hal-hal menyebalkan untuk dibagikan.
Menjalani 365 hari, setiap harinya, ada saja beban yang hinggap di pundak. Menghela napas panjang, udara yang terhirup tidak banyak, karena harus melalui hidung yang tersumbat. Pilek menjadi teman Fitria paling setia di 2017, sementara tisu menempati urutan kedua setelahnya.
Sempat beberapa minggu, mengonsumsi obat flu setiap malamnya, sebelum ditegur oleh ibu supaya tidak ketergantungan obat. Habis bagaimana? Hanya obat flu yang berhasil membuat tidur menjadi nyenyak. Ada banyak tanggung jawab yang tidak bisa dihindari dengan alasan tubuh terserang virus influenza. Memang rasanya tidak nyaman, tapi pantaskah saya beristirahat sementara orang-orang membutuhkan saya? Lagipula pilek bukanlah penyakit serius yang menyebabkan saya tidak bisa bangkit dari kasur.
Tentang saya dan pilek, kenangan kami tercipta di Depok Lama, di SD samping kampus D UNJ, di KFC sebrang kampus B, dan di tenda regu pramuka. Menariknya, pilek ini punya gerombolan, yaitu batuk dan suara serak. Setelah 3-4 hari berturut-turut meminum obat, biasanya yang datang adalah batuk, lalu setelah batuk mulai mereda karena OBH, suara saya jadi serak-serak basah. Suara yang serak kadang tidak begitu menyebalkan juga sih, sebab suara saya jadi seksi. Walaupun capek juga ketika harus membuka mulut dan memaksakan getar di pita suara.
Bagian yang paling membuat frustasi adalah kenyataan bahwa saya tak kunjung kehilangan berat badan karena pilek yang menyerang. Seandainya saja pilek ini diiringi dengan hilangnya kilo demi kilo berat badan, saya akan sangat amat mengapresiasi keberadaannya. Tak perlu lah menenggak Panadol tiap malam. Yang penting kurus. Seandainya saja...seandainya.....
Penjabaran tentang hal-hal menyebalkan jadi lucu juga saat ingat di atas, saya menulis bahwa tahun 2017 itu penuh warna dan makna, serta penuh duka cita. Mana dia warna bersinar, makna tersirat dan citanya sih, fit?
Hmmmmm
Baiklah, saya akan menjadi sok bijak mulai sekarang. Jadi, ada satu hal yang menjadi warna paling bersinar, makna dan cita paling besar yang pernah saya dapatkan.
Syukur. Ini tentang bersyukur.
Sederhana. Tapi rasa syukur ini mengubah sudut pandang saya. Hal-hal menyebalkan dan menyedihkan, bagaimana jika dilihat dari sisi lain yang tak diduga?
Rumah baru, punya kamar yang lebih besar, lebih nyaman, dan tidak perlu berebutan kamar mandi seperti di rumah lama, bukankah itu hal yang menyenangkan?
Terpilih sebagai ketua forum penulisan kampus, pengalaman bagi seorang yang berambisi jadi pemimpin masa depan, bukankah itu hal yang patut disyukuri?
Menjadi pimpinan sidang, belajar menjadi adil, belajar mengetukkan palu dengan derajat yang telah ditentukan, bukankah kesempatan itu sangat berharga?
Jadwal kuliah di siang hari, punya waktu untuk mengerjakan tugas di pagi harinya (bagi deadliner, ini kesempatan emas), tidak perlu berdesak-desakan dengan karyawan yang berangkat kerja waktu pagi di transjakarta, bukankah itu sangat membahagiakan?
Kehilangan sosok seorang kakek dan seorang nenek, tapi masih memiliki seorang kakek dan seorang nenek lainnya, bukankah Allah masih memberi kesempatan untuk menjaga mereka?
Mengikuti KKN di rusun, mengenal anak-anak yang semangat belajar, menyicipi pop ice murah meriah, bukankah momen-momen itu patut dinikmati?
Mengajar di sebuah SD, belajar menjadi profesional, mempraktekkan teori, melahap cireng pedas nan enak yang dijual di kantin, bukankah hal itu memang harus menjadi bagian dari hidup ini?
Menjadi seorang pramuka, memahami kiasan dasar, menemukan berbagai teknik yang bisa digunakan untuk menjadi pemimpin—pembina pramuka, bukankah hal itu tidak hanya sekedar menghamburkan uang?
Mengerjakan revisi, belajar kesabaran, belajar bahwa hidup ini juga akan terus mengalami revisi karena sewaktu-waktu bisa saja membuat kesalahan, mengapa harus merasa tertekan? Semua hanya soal sudut pandang.
Tentang pilek, saya pasti kurang mensyukuri nikmat sehat.
2018, semoga kita bisa hidup dengan sehat, hidup dengan bahagia, karena kita senantiasa bersyukur. Aamiin.