Minggu, 02 Desember 2018

Berkompromi dengan Mimpi

Beberapa waktu belakangan saya banyak berpikir tentang masa depan (lebih banyak dari biasanya, biasanya saya tidak berpikir tentang masa depan sama sekali soalnya). Apa yang saya pikirkan tidak spesifik tentang masa depan sih sebetulnya, seringnya justru saya suka memikirkan berapa banyak kira-kira pendapatan Safiya Nygaard dari channel youtubenya atau apakah Matkiding punya alasan lain selain mencari calon istri ketika menanyakan, "suka ada cewek yang lewat nggak nih, pak/bu?" kepada setiap penjual makanan yang diliputnya. Ya, tapi karena merasa punya tanggung jawab moral untuk merangkai kehidupan di waktu mendatang sebagai seorang pengangguran, akhirnya saya memutuskan untuk memikirkan tentang masa depan juga.
Sejujurnya memikirkan masa depan pada titik tertentu membuat saya agak tertekan. Selama ini saya hanya punya gambaran tentang apa yang harus saya lakukan dalam hidup ini sampai pada waktu di mana saya memakai toga dan memegang ijazah S1 di tangan. Maksudnya, sewaktu saya TK, saya tahu bahwa setelahnya saya akan masuk SD, setelah lulus SD, saya tahu bahwa saya akan masuk SMP, setelah itu masuk SMA, lalu kuliah jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Tapi setelah lulus kuliah, saya mau apa? Kemana lagi saya akan melangkah, tidak ada gambaran. Bukan berarti tidak jalan yang bisa saya tempuh setelah menyandang gelar, tapi saya hanya tidak tahu arah mana yang tepat.
Tidak lama setelah saya lulus, Pemerintah mengumumkan bahwa akan ada seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Singkat cerita saya melakukan banyak persiapan untuk tes sampai tiba waktunya saya mengikuti tes tahap pertama yaitu Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Saat mempersiapkan ini dan itu untuk keperluan CPNS, saya meyakinkan diri saya bahwa mungkin ini memang jalan yang tepat untuk saya tempuh setelah lulus, lagipula saya rasa keluarga saya memang membutuhkan kestabilan ekonomi dan Pemerintah telah menjanjikan hal itu bagi PNS. Namun, kalimat "baik, saya akan menjadi PNS." seketika buyar saat poin saya gagal mencapai passing grade yang ditetapkan.
Saya tidak sedepresi itu karena gagal menjadi salah satu dari 3% orang yang berhasil menaklukkan soal TWK, TIU, dan TKP sebenarnya. Tapi yang membuat kepala saya agak pening adalah jalan mana lagi yang bisa saya tempuh setelah ini. Haruskah saya melamar di sekolah swasta? Haruskah saya belajar untuk seleksi tahap kedua CPNS sambil menunggu pengumuman resmi tentang seleksi tahap pertama yang barangkali saja masih memberikan saya kesempatan mengingat ada perubahan kebijakan? Haruskah saya membuka jasa les privat di OLX seperti yang teman saya lakukan? Atau haruskah saya belajar untuk mempersiapkan beasiswa S2? Benar-benar membingungkan. Kalau saya orang Inggris mungkin saya sudah berucap, "I have no idea."
Tiba suatu hari di mana saya bertanya pada teman-teman dekat saya tentang target hidup mereka, apa yang paling mereka inginkan, dan apa tujuan hidup mereka. Padahal pertanyaan itu harusnya saya tujukan pada diri sendiri, tapi saya malah menanyakan pada orang lain. Sesungguhnya itu dilakukan tidak lain tidak bukan karena mungkin saya bisa menyontek target, keinginan, dan tujuan hidup mereka. Seperti yang telah diniatkan −menyontek−, maka tidak lupa saya juga menanyakan upaya-upaya yang mereka lakukan (sudah maupun akan). Tiap-tiap jawaban yang mereka lontarkan saya catat dan saya rangkum untuk kemudian saya pahami baik-baik.
Mereka menulis mimpi-mimpinya. Pola itulah yang saya dapatkan dari hasil analisis saya. Mengetahui hal tersebut, dengan semangat saya membuka binder masa kecil, catatan harapan setiap awal tahun baru, membaca postingan-postingan lama di blog ini dan catatan lainnya yang mungkin bisa memberikan petunjuk tentang apa-apa yang saya impikan. Setelah lama mencari tahu akhirnya saya menemukan bahwa mimpi saya adalah; menjadi Menteri Pendidikan dan pergi ke luar negeri gratis. Dua hal itulah yang paling saya inginkan dalam hidup ini, dan menengok ke belakang, saya bisa berkata bahwa hal-hal yang saya lakukan adalah dalam rangka mewujudkan mimpi tersebut.
Alasan bermimpi menjadi Menteri Pendidikan adalah untuk aktualisasi diri. Kalau boleh jujur, setelah saya menganalisis diri saya, saya tahu bahwa saya suka menjadi seseorang yang menonjol. Walau tentu saja, saya tidak selalu berhasil, seringkali saya juga menarik mundur diri saya ketika saya tahu bahwa saya tidak akan bisa menonjol di dalam suatu komunitas. Saya berpikir bahwa menjadi Menteri Pendidikan adalah batas kemenonjolan maksimal bagi saya, yang menjadi Presiden biarlah yang lebih kompeten. Maka saya tertantang untuk mencapai batas tersebut.
Lain halnya dengan mimpi pergi ke luar negeri gratis. Variabel-variabel yang mempengaruhi mimpi saya yang satu ini adalah sertifikat A2 yang saya miliki setelah 2 tahun belajar Bahasa Jerman intensif di SMA, novel-novel yang menggambarkan bahwa orang sukses akan dapat beasiswa kuliah di luar negeri, drama Korea yang memvisualisasikan negaranya dengan indah, dan teman-teman dekat saya yang pergi atau bahkan tinggal di luar negeri. Atau bahkan mungkin juga karena saya masih penasaran bagaimana rasanya udara di Jerman setelah menolak beasiswa partially-funded untuk ikut pertukaran pelajar saat SMA. Saat itu, keluarga saya tidak punya uang untuk membayar setengah bagiannya lagi, dan saya belum tahu bahwa saya bisa saja mencari sponsor untuk itu.
Berbekal pemahaman bahwa teman-teman saya menuliskan apa-apa saja yang diimpikannya, akhirnya saya bertekad bahwa saya harus memulai mewujudkan paling tidak salah satu dari mimpi saya. Saya mencari-cari program kepemudaan yang biasanya berupa seminar di luar negeri. Upaya pencarian yang saya lakukan dengan mempertimbangkan jumlah sisa uang di tabungan yang saya miliki serta tentunya kualifikasi dan kemampuan saya, membuahkan hasil penemuan suatu program yang diadakan di Yogyakarta yang hanya menjanjikan bahwa pihak panitia akan memenuhi kebutuhan akomodasi selama acara. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar di program tersebut untuk kemudian diseleksi oleh panitia, tentunya− saya berkompromi dengan tujuan akhir saya. Saya berpikir bahwa jika saya ingin mewujudkan mimpi saya untuk KE LUAR NEGERI GRATIS, semestinya saya membangun link terlebih dahulu. Toh di sana saya akan menemukan pemuda-pemuda lain yang pasti sudah punya pengalaman yang lebih banyak di program kepemudaan. Saya juga berpikir bahwa tidak akan jadi masalah kalau saya harus mengeluarkan uang untuk sampai ke tempat acara tersebut. Singkat cerita, Fitriah dengan semangatnya yang membara, mendaftarkan dirinya. 
Saya mengisi beberapa pertanyaan saat mendaftar; tentang pengalaman memimpin, apa tujuan saja mengikuti program, dan apa yang akan saya lakukan dalam 5 tahun ke depan. Tentu saya memutar otak untuk dapat menjawab, mencari-cari kelebihan yang mungkin bisa saya banggakan, menggunakan bahasa sediplomatis mungkin, bahkan mengorfirmasi Bahasa Inggris saya kepada teman yang lebih menguasainya. Sesaat setelah mendaftar, saya memasrahkan hasilnya sambil berusaha memercayai diri saya karena saya rasa saya telah menujukkan secara maksimal tentang apa yang saya miliki. Apa yang saya punya, itulah yang saya tawarkan dengan maksimal.
Hari demi hari berlalu, tidak terdengar adanya pengumuman hasil seleksi untuk program tersebut. Saya kemudian mengecek e-mail, dan hanya menemukan e-mail ucapan terima kasih atas partisipasi saya dalam program tersebut. Hari-hari berikutnya, saya membuka e-mail setiap pagi, barangkali saya menemukan e-mail pengumuman dari panitia, karena saya tidak menemukan update apa pun di sosial media program maupun pelaksananya. Tiba pada hari di mana program itu dijadwalkan, saya tidak menerima e-mail lain lagi. Saya berpikir sekaligus berharap bahwa acara mungkin saja diundur. Namun, akhirnya pada malam harinya saya melihat update di sosial media program tersebut. Baiklah, ternyata saya memang tidak terpilih. 
Tentang kecewa. Siapapun akan merasakannya ketika kita berharap, tapi ya sudahlah. Toh, rasanya masih lebih mending daripada saat saya tahu nilai TKP SKD CPNS saya kurang 4 poin. Kemudian saya jadi tersadar bahwa untuk sebuah program yang sudah saya kompromikan saja saya gagal, bagaimana bisa saya mencapai mimpi saya yang jauh lebih besar. Saya tersadar setelah saya stalking salah satu peserta yang terpilih, btw haha. Dan lagi, saya ingat bahwa ini bukan pertama kalinya saya gagal, setidaknya saya pernah mencoba mendaftar untuk 2 program semacam ini sebelumnya. Yang fully-funded. Sungguh tidak ngukur diri wkwk
Saya pun mengukur diri saya, bukan berat atau tinggi badan, kalau itu saya sudah tahu kok dan tidak perlu diingat-ingatdefense mechanism. Sudah cukup penderitaan manusia penggangguran ini, tidak usah lagi ditambahkan dengan melihat angka di timbangan. Ya, saya mengukur kemampuan saya, tentang apa yang saya punya sebenarnya, dan apakah mungkin saya menjadi pemuda yang dibiayai ke luar negeri, sementara ada banyak pemuda yang lebih pantas. Dan jawabannya adalah tidak. Saya tahu sejak lama sebenarnya, tapi tetap memaksakan diri.
Di sela-sela kekecewaan ini, saya membaca lagi jawaban teman-teman saya atas pertanyaan yang saya ajukan. Saya percaya bahwa teman-teman saya memberikan jawaban terbaiknya, maka saya mencoba memahami lagi tentang mimpi mereka. Saya telaah, dan hasilnya adalah mereka menuliskan mimpi yang realistis. Mimpi yang mereka tahu bahwa mereka dapat mewujudkan, sementara kaki mereka melangkah ke arah sana. Mereka tidak memaksakan diri mereka untuk mengegolkan mimpi yang terlalu 'tidak mungkin' bagi mereka. 
Kembali saya pandangi kedua mimpi saya. Itu tidak realistis, bagi saya. Tentu saja keajaiban bisa saja tiba-tiba terjadi, tapi berbekal hasil mengukur diri, kedua hal tersebut terlampau jauh untuk saya capai. Ini bukan soal menyerah. Itu hal yang berbeda. Itu disebut menyerah apabila sebenarnya kita mampu jika berusaha lebih giat. Tapi itu bukan menyerah apabila sebenarnya kita hanya memaksakan diri. Saya rasa, saya hanya berkompromi setelah mengukur diri. 
Sekarang tentu saya masih ingin ke luar negeri gratis, tapi dengan jalan lain. Gratis karena dibayarin oleh suami, misalnya? Haha
Mimpi menjadi Menteri, untuk yang satu itu sepertinya saya memang tidak mampu. Menjadi Ketua Umum di organisasi fakultas saja dapat banyak kritik, bagaimana kalau jadi Menteri? Hancurlah pendidikan di negeri ini nanti. Jadi, saya rasa menjadi guru PNS saja sudah cukup. Masalah naik jabatannya akan jadi urusan belakangan, yang penting saya berusaha untuk selalu mengembangkan diri. Lihat, kan? Saya tidak menyerah untuk menjadi PNS. Lagi-lagi karena ini bukan soal menyerah, tapi berkompromi. 


(masih banyak salah di penulisan, akan dibenarkan nanti kalau buka laptop)

Minggu, 15 April 2018

Defense Mechanism

Seseorang pernah bertanya. Apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana mulanya, seberapa besarkah masalahnya, dan bagaimana mengatasinya.
Tidak terjawab.
Hei, mana ingat?
Tidak terbesit pula keinginan untuk mengingat.
Mengapa pula harus diingat?
Kita ini manusia.
Ada masa-masa dalam hidup di mana kita bahagia setengah mati.
Akan selalu ada juga masa di mana kita ingin merintih.
Teriak.
Memaki.
Bahkan menangis jika tak ada lagi solusi.
Karena kita manusia.
Makhluk sosial, katanya.
Ya, paling tidak kita berinteraksi dengan keluarga.
Siapa pula yang ingin mendengarmu berteriak?
Membuat sakit telinga-telinga yang mendengar saja.
Siapa pula yang ingin mendengarmu memaki?
Kata-kata kotor nan menjijikan.
Merusak citra kepribadian.
Dan siapa pula yang ingin mendengarmu menangis?
Di antara kita ada istilah, "menangis tidak akan menyelesaikan masalah".
Baiklah.
Lupakan saja.
Lupa.
Hilang.
Hapus dari memori.
Hidupmu harus terus berjalan.
Jangan biarkan dirimu membuang-buang suara, apalagi air mata.
Kita akan lupa.
Jangan, jangan lagi diingat-ingat.
Momen menyakitkan, perlahan pasti akan lenyap.
Hanya jangan pernah mengingatnya.
Jangan pernah mencatatnya.
Dan jangan pernah membacanya.
Untuk apa bunuh diri berkali-kali?
Karena kita manusia.
Karena ini akan jadi lebih mudah ketimbang mencari makna.

Rabu, 28 Februari 2018

21

HIGHLIGHT - CAN BE BETTER

It can’t be helped
Don’t try to hold onto what has already left
It can’t be helped
Because this time, this pain will pass in the end, hey

Don’t wanna get too hung up on something like love
I love myself, I’m more precious than anything else
Don’t wanna force something that doesn’t fit to fit
Because I still like doing things my way

Time has passed me by
So why try to stay in the past?
It’s too late to turn things around
Memories are now high above the sky

It can’t be helped
Don’t try to hold onto what has already left
It can’t be helped
Because this time, this pain will pass in the end, hey

Today will soon become yesterday
Some day, it will be a memory
So I wanna let it all go with a smile
Because this time, this pain will pass in the end, hey

Not everything can be good, not everything can be bad
Not every single repeating day can be special
Why worry about something that won’t even happen?
Even in this moment, the sun is slowly setting

Time has passed me by
So why try to stay in the past?
It’s too late to turn things around
Memories are now high above the sky

It can’t be helped
Don’t try to hold onto what has already left
It can’t be helped
Because this time, this pain will pass in the end, hey

Today will soon become yesterday
Some day, it will be a memory
So I wanna let it all go with a smile
Because this time, this pain will pass in the end, hey

I became an adult because of time
But there’s still so much I don’t know
Sometimes, I hate the world so much
But still, I try to live, I try to laugh out loud

It can’t be helped
Don’t try to hold onto what has already left
It can’t be helped
Because this time, this pain will pass in the end, hey

Today will soon become yesterday
Some day, it will be a memory
So I wanna let it all go with a smile
Because this time, this pain will pass in the end, hey

Credit: popgasa

Minggu, 04 Februari 2018

Kakek yang Jago Pantun dan Nenek yang Jago Main Congklak

إنّا لله وإنّا إليه راجعون
"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jualah kami kembali."

Ini sepenggal kisah tentang kakek dan nenek dari sudut pandang seorang cucu yang baru saja ditinggal pergi untuk selamanya.
(ini ditulis sekitar bulan Maret 2017, selama ini disimpan di draft, dan sekarang baru dipublikasikan)




Kakek
Almarhum kakek Rochimi bin Sarbini adalah bapak dari ibu saya. Kakek adalah sosok yang menyenangkan. Sampai sekitar kelas 5 SD, saya tinggal di alamat yang sama dengan kakek−
alamat rumah yang paling saya ingat secara lengkap hingga sekarang meski saya sudah tidak tinggal di sana lagi. Mungkin begitu tertanam karena saat kecil sering diingatkan, "Fitria kalau nyasar jangan sampe lupa alamatnya ya."
Kakek Emi, begitu sapaan saya kepada beliau menurut yang ibu ajarkan. Sejak saya mengenal kakek, yang saya tahu kakek berprofesi sebagai tukang kasur. Sehari-harinya beliau suka berkeliling menggunakan sepeda mencari rejeki dari orang yang barangkali membutuhkan jasanya. Selain itu, saya juga mengenal sosok kakek yang bekerja sebagai hansip. Jadi teringat sosok kakek dengan seragam hijau lengkap dengan topinya.
Kakek adalah sosok lelaki yang tegas. Saya ingat dulu pernah dimarahi karena memakai kacamata kakek. Kalau dahulu saya tahu dampaknya secara tidak langsung ternyata membuat mata saya minus sekarang, mungkin saya tidak akan pernah memakainya. Padahal dulu sudah diberi tahu sih, kalau nanti matanya akan rusak. Memang dasar Fitria kecil keras kepala saja.
Kebiasaan kakek dulu adalah mencolek lengan saya saat saya sedang melamun di teras rumah, kemudian saat saya menolehnya, beliau mulai berpantun. Pantun tentang apa saja. Misal hari sedang hujan, kakek akan berima,
"Bandung lautan api
Hujan-hujan enaknya ngopi"
Saya tidak begitu ingat pantun kakek yang lain, mungkin karena sudah terlalu lama tidak mendengarnya. Saat mendengar kakek berpantun, saya biasanya hanya senyum-senyum saja. Sebenarnya terganggu juga, tapi saya tahu maksud kakek adalah untuk menghibur saya.
Hari ini saya tiba-tiba teringat sewaktu kakek mengambil rapot saya di SMP. Kakek dengan sepeda butut kesayangannya datang untuk mewakilkan orang tua saya bertemu wali kelas saat itu. Saya sempat malu, karena sepeda butut kakek terlihat mencolok di antara motor-motor dan mobil-mobil orang tua murid yang lain. Tapi sekarang saya senang punya momen seperti itu dengan kakek.
Beberapa tahun terakhir kakek sakit. Meski begitu kakek tetap tinggal di rumah. Kakek kesulitan untuk berjalan, beliau akan berpegangan pada tembok samping gang sambil melangkah. Menurut cerita bibi−adik perempuan ibu−beliau setiap pagi dan sore harinya akan berjalan keliling gang untuk menyalakan dan mematikan lampu jalan. Saat ditanya mengapa beliau melakukan itu padahal beliau sendiri sulit untuk berjalan, beliau akan menjawab bahwa beliau tidak ingin orang-orang yang melewati gang merasa gelap.
Semoga kubur kakek juga tidak terasa gelap ya, kek. Karena kebaikan yang sudah kakek lakukan kepada orang lain.
27 Februari 2017, kakek akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Kakek pergi secara mendadak, tanpa pernah berpesan apapun pada anak dan cucunya. Barangkali karena kakek adalah lelaki yang tak banyak bicara soal perasaannya. Saya hanya ingat matanya yang berkaca-kaca saat keluarganya berkumpul di hari lebaran.
Semoga seperti nama kakek yang berarti penyayang, kakek mendapatkan kasih sayang yang banyak dari Allah SWT. Aamiin.


Nenek
Almarhumah nenek Hj. Mulia binti H. Marhasan adalah ibu dari ayah saya. Nenek adalah orang ketiga yang paling sering mengingatkan saya untuk sholat setelah kedua orang tua saya. Saya ingat sering menggerutu karena kebawelan nenek, dan sekarang saya menyesal karena segala kebawelan nenek adalah untuk kebaikan saya.
Sewaktu kecil, setiap hari Sabtu sepulang sekolah saya akan pergi ke rumah nenek untuk menginap di sana. Saya tidur di kamar bibi. Malam minggunya, sambil mengisi waktu saya sering bermain congklak atau halma dengan nenek. Meski tahu bahwa nenek adalah jagonya dan saya hampir tidak pernah menang melawan nenek, saya tetap suka bermain permainan tradisional itu dengan nenek. Saya belajar banyak tentang trik-trik jitu bermain congklak, walaupun sekarang sudah lupa sih.
Nenek adalah perempuan yang kuat. Beliau tidak pernah menangis di depan banyak anggota keluarganya. Beliau terlihat bijaksana sekaligus cool dengan sikapnya yang seperti itu. Saya yakin beliau tidak menangis karena tidak ingin suasana menjadi terlalu haru.
Nenek punya darah India. Mengetahui fakta itu, saya sering membangga-banggakan nenek kepada teman-teman saya. "Nenek kita kan keturunan India tahu, ntar kalo nenek lagi ke rumah, liatin aja hidungnya." ujar saya hampir pada semua teman SD yang tinggal dekat rumah kala itu. Hidung nenek sangat mancung, dibingkai wajah yang mungil, nenek terlihat cantik.
Nenek Mul-begitu sapaan saya pada beliau-sangat rajin beribadah. Beliau bergegas dari kegiatannya sesaat setelah adzan berkumandang. Beliau mengaji secara rutin di tiga tempat selama beberapa tahun belakangan. Karena itu pula, setiap Jumat sepulang mengaji nenek rutin mampir ke rumah sambil menunggu mamang−adik ayah−menjemputnya.
Sosok istri yang baik tergambar dalam diri nenek. Nenek sering membantu kakek berjualan di pasar. Hingga usia senjanya, nenek bahkan masih suka cemburu pada pembeli yang suka menanyai kakek. Nenek dan kakek hampir selalu kemana-mana bersama. Menengok cucunya yang sakit, lebaran ke rumah kakaknya nenek, maupun lebaran ke tempat-tempat lain.
Beberapa bulan belakangan saya sering melihat nenek bernapas dengan terengah-engah. Suara nenek serak-serak basah sehingga saya hanya mengira nenek sulit bernapas karena suaranya memang parau. Ternyata semakin hari sesak napas nenek makin parah, saat dibawa ke rumah sakit, dokter mengumumkan pada anggota keluarga bahwa nenek terserang penyakit jantung. Kondisi fisik yang terus menurun memaksa nenek dirawat di rumah sakit.
Saya ingat betul bahwa saya seringkali diomeli oleh nenek karena tidak mencium tangan orang tua dengan benar−alih-alih mencium, saya hanya menempelkan tangan orang yang disalimi ke pipi saya. Kala itu di rumah sakit, sebelum pamit pulang setelah menjenguk nenek, saya akhirnya untuk pertama kalinya mencium tangan nenek dengan benar.
5 Maret 2017, nenek akhirnya tidak sanggup lagi menahan sakitnya. Nenek pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Semua anggota keluarga merasa kehilangan, tentu saja, tapi ada yang lebih menyayangi nenek dan tidak ingin nenek merasakan sakit lagi.
Semoga Allah me-Mulia-kan nenek di sisi-Nya. Aamiin.


4 Februari 2018, hampir setahun sudah momen-momen menyedihkan ini berlalu. Air mata kadang masih menetes tiap ingat sosok kakek dan nenek yang telah berada di sisi-Nya. Pernah beberapa kali kakek dan nenek menyapa lewat mimpi. Rindu, tapi tidak bisa lagi bertemu. Maka yang bisa dilakukan hanyalah memandangi foto kakek dan nenek, tak lupa mengirimkan Al-Faatihah selepas sholat. Tapi bolehkah saya sekali saja mengungkapkan perasaan rindu saya di sini? Kek, Nek, Fitria kangen....
Di balik dua peristiwa kehilangan yang saya alami, saya tersadar bahwa Kakek dan Nenek lainnya mesti mendapatkan perhatian saya. Sekarang adalah waktunya untuk menjaga mereka. Selagi saya dan mereka masih ada umur. Sebab kita tidak akan pernah tahu kapan tiba waktunya seseorang pergi meninggalkan kita, kan?

Senin, 01 Januari 2018

Pilek Sepanjang Tahun

2017 telah berlalu.
Tahun penuh warna dan penuh makna.
Tidak ada yang berjalan dengan mudah, untuk dapat melalui semuanya, dibutuhkan usaha ekstra. Seorang yang cuek bebek—tidak peka walaupun ada kecelakaan di depan mata karena pikirannya kemana-mana—seperti saya, sungguh, 2017 dipenuhi berbagai tantangan.
2017 menuntut saya melakukan  banyak penyesuaian; rumah baru, menjadi pengawas TPS, terpilih sebagai ketua forum penulisan kampus, menjadi pimpinan sidang, jadwal kuliah di siang hari, kehilangan sosok seorang kakek dan seorang nenek, mengikuti KKN di rusun, mengajar di sebuah SD, menjadi seorang pramuka, hingga mulai menyusun tumpukan kertas penelitian yang bisa ditukar dengan ijazah.
Duka cita senantiasa menemani. Teringat saat dengan melankolisnya menangis karena harus meninggalkan rumah lama, saat terpilih jadi ketua, dan saat kehilangan kakek Emi dan nenek Mul. Teringat pula saat bahagia menerima amplop honor mengawas TPS, dan saat......apa ya? Sepertinya hanya itu yang buat saya bahagia. Saya lebih ingat saat-saat menyebalkannya, saat harus berpanas-panasan di perjalanan ke kampus, saat harus menjadi pimpinan sidang karena sang ketua lembaga tidak hadir, saat menunggu transjakarta mini menuju rusun tempat KKN, saat menghambur-hamburkan uang demi sebuah media pembelajaran, saat memakai baju pramuka di akhir pekan yang indah, dan mengerjakan revisi yang tidak ada habisnya. Tukang mengeluh seperti saya memang punya lebih banyak hal-hal menyebalkan untuk dibagikan.
Menjalani 365 hari, setiap harinya, ada saja beban yang hinggap di pundak. Menghela napas panjang, udara yang terhirup tidak banyak, karena harus melalui hidung yang tersumbat. Pilek menjadi teman Fitria paling setia di 2017, sementara tisu menempati urutan kedua setelahnya.
Sempat beberapa minggu, mengonsumsi obat flu setiap malamnya, sebelum ditegur oleh ibu supaya tidak ketergantungan obat. Habis bagaimana? Hanya obat flu yang berhasil membuat tidur menjadi nyenyak. Ada banyak tanggung jawab yang tidak bisa dihindari dengan alasan tubuh terserang virus influenza. Memang rasanya tidak nyaman, tapi pantaskah saya beristirahat sementara orang-orang membutuhkan saya? Lagipula pilek bukanlah penyakit serius yang menyebabkan saya tidak bisa bangkit dari kasur.
Tentang saya dan pilek, kenangan kami tercipta di Depok Lama, di SD samping kampus D UNJ, di KFC sebrang kampus B, dan di tenda regu pramuka. Menariknya, pilek ini punya gerombolan, yaitu batuk dan suara serak. Setelah 3-4 hari berturut-turut meminum obat, biasanya yang datang adalah batuk, lalu setelah batuk mulai mereda karena OBH, suara saya jadi serak-serak basah. Suara yang serak kadang tidak begitu menyebalkan juga sih, sebab suara saya jadi seksi. Walaupun capek juga ketika harus membuka mulut dan memaksakan getar di pita suara.
Bagian yang paling membuat frustasi adalah kenyataan bahwa saya tak kunjung kehilangan berat badan karena pilek yang menyerang. Seandainya saja pilek ini diiringi dengan hilangnya kilo demi kilo berat badan, saya akan sangat amat mengapresiasi keberadaannya. Tak perlu lah menenggak Panadol tiap malam. Yang penting kurus. Seandainya saja...seandainya.....
Penjabaran tentang hal-hal menyebalkan jadi lucu juga saat ingat di atas, saya menulis bahwa tahun 2017 itu penuh warna dan makna, serta penuh duka cita. Mana dia warna bersinar, makna tersirat dan citanya sih, fit?
Hmmmmm
Baiklah, saya akan menjadi sok bijak mulai sekarang. Jadi, ada satu hal yang menjadi warna paling bersinar, makna dan cita paling besar yang pernah saya dapatkan.
Syukur. Ini tentang bersyukur.
Sederhana. Tapi rasa syukur ini mengubah sudut pandang saya. Hal-hal menyebalkan dan menyedihkan, bagaimana jika dilihat dari sisi lain yang tak diduga?
Rumah baru, punya kamar yang lebih besar, lebih nyaman, dan tidak perlu berebutan kamar mandi seperti di rumah lama, bukankah itu hal yang menyenangkan?
Terpilih sebagai ketua forum penulisan kampus, pengalaman bagi seorang yang berambisi jadi pemimpin masa depan, bukankah itu hal yang patut disyukuri?
Menjadi pimpinan sidang, belajar menjadi adil, belajar mengetukkan palu dengan derajat yang telah ditentukan, bukankah kesempatan itu sangat berharga?
Jadwal kuliah di siang hari, punya waktu untuk mengerjakan tugas di pagi harinya (bagi deadliner, ini kesempatan emas), tidak perlu berdesak-desakan dengan karyawan yang berangkat kerja waktu pagi di transjakarta, bukankah itu sangat membahagiakan?
Kehilangan sosok seorang kakek dan seorang nenek, tapi masih memiliki seorang kakek dan seorang nenek lainnya, bukankah Allah masih memberi kesempatan untuk menjaga mereka?
Mengikuti KKN di rusun, mengenal anak-anak yang semangat belajar, menyicipi pop ice murah meriah, bukankah momen-momen itu patut dinikmati?
Mengajar di sebuah SD, belajar menjadi profesional, mempraktekkan teori, melahap cireng pedas nan enak yang dijual di kantin, bukankah hal itu memang harus menjadi bagian dari hidup ini?
Menjadi seorang pramuka, memahami kiasan dasar, menemukan berbagai teknik yang bisa digunakan untuk menjadi pemimpin—pembina pramuka, bukankah hal itu tidak hanya sekedar menghamburkan uang?
Mengerjakan revisi, belajar kesabaran, belajar bahwa hidup ini juga akan terus mengalami revisi karena sewaktu-waktu bisa saja membuat kesalahan, mengapa harus merasa tertekan? Semua hanya soal sudut pandang.
Tentang pilek, saya pasti kurang mensyukuri nikmat sehat.
2018, semoga kita bisa hidup dengan sehat, hidup dengan bahagia, karena kita senantiasa bersyukur. Aamiin.