Senin, 20 Oktober 2014

Pemimpin Baru

Hari ini (20/10/2014) sejak baru membuka mata, grup whatsapp sudah ramai dengan omongan teman-teman sejurusan yang mengajak untuk aksi menyambut pelantikan presiden baru. Ada yang berapi-api meyakinkan kawan-kawannya untuk ikut, ada yang mengutarakan bahwa ia tidak mendapat izin dari orangtua, ada pula yang hanya sekedar mengingatkan untuk berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet di jalan ke kampus. Saya sendiri termasuk golongan yang kedua; tidak ikut aksi karena tidak diizinkan orangtua.

Orangtua saya bilang, “Nanti kena gas airmata lho!”. Saya pun tidak berkomentar. Jujur saja, sampai saat ini masih ngeri juga untuk ikut-ikut aksi. Dari awal masuk kuliah pun, tak terbesit di benak saya tentang aksi sama sekali. Padahal mahasiswa sebenarnya sudah identik dengan aksi.

Sambil sarapan, saya menyalakan televisi dan menonton berita mengenai presiden dan wakil presiden terpilih-JokowiJK. Ada beberapa hal yang saya tangkap dari berita yang disiarkan:
1. Ibu negara tidak memakai jilbab (seingat saya dulu ketika pencoblosan ibu negara memakai jilbab, sebenarnya tidak ada urusannya juga dengan saya, tapi hanya sedikit bingung saja)
2. Bapak Presiden mempunyai 3 orang anak; 1 perempuan , 2 laki-laki.
3. Pak Jokowi bilang ia hanya sarapan dengan pisang sepotong dan jamu.
4. Pak JK memakai jas yang sama dengan yang beliau kenakan saat pelantikan tahun 2004 lalu.
Sisanya saya lupa, lagipula saya hanya menonton sekilas.

Selain itu, ada juga berita tentang rekayasa lalu lintas hari ini. Setelah menyimak dengan seksama, ternyata tidak ada rekayasa lalu lintas di jalur busway yang harus saya tempuh untuk ke kampus. Pulogadung-Dukuh Atas aman. Jadi saya tidak perlu berangkat lebih pagi. Saya hanya berangkat 30 menit lebih pagi, itupun karena hari ini kelompok saya harus mempersiapkan untuk presentasi mata kuliah Pendidikan Jasmani.

Seperti biasa, dari halte busway Dukuh Atas 2, saya jalan kaki menuju kampus. Ternyata di daerah tersebut cukup ramai. Saya lihat ada beberapa kopaja dan metromini yang terparkir. Di kaca metromini dan kopaja itu terdapat tulisan ‘Rombongan SMPN 265’(ini kalau tidak salah, saya agak lupa). Yang ada dipikiran saya, itu barangkali rombangan karya wisata.

Namun seketika pikiran saya berubah saat melihat anak SMP yang sepertinya anak SMPN 265 itu, berkumpul di sekitaran situ dengan pakaian bertuliskan ‘Terimakasih Pak SBY’. Mereka juga menggenggam bendera merah putih dari plastik. Sebagian besar dari mereka duduk di koridor sambil memakan jajanan. Sungguh sangat disayangkan, sampah bekas jajanan mereka terlihat berantakan. Tidak dibuang ditempatnya.

Di sekitar situ ternyata juga ada beberapa TNI. Mereka mungkin mengamankan wilayah yang akan dilalui presiden. Banyak diantara mereka yang sedang berdiri di koridor tapi ada pula yang sedang duduk dipinggir koridor sambil memakan gorengan. Semoga saja aparat negara itu membuang sampah pada tempatnya.

Jarak antara halte busway dan kampus saya cukup jauh. Jadi selama saya berjalan kaki ada banyak juga hal yang cukup menarik perhatian saya namun tidak saya ceritakan. Ketika sampai di kampus PGSD tercinta, saya melihat beberapa orang teman saya sudah siap siaga untuk ikut aksi.


Karena saya tidak ikut aksi, saya hanya akan menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah mengemban tugas yang berat selama 10 tahun ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla. Semoga Indonesia menjadi lebih baik setelah kepemimpinan Anda. Jangan lupakan juga janji yang sudah diucapkan, dan tolong hiraukan 7 Tuntunan Rakyat yang sudah teman-teman saya sampaikan lewat aksi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar