Rabu, 31 Desember 2014

Sang Alkemis - Paulo Coelho

Post pertama di tahun 2015.
Sebenarnya sejak lama saya tidak begitu suka membaca novel terjemahan. Alasannya; tata bahasanya berubah menjadi aneh dan (menurut saya) tidak enak dibaca. Tapi novel pinjaman teman yang saya habiskan di malam tahun baru ini bisa dikatakan berbeda. Bahasanya indah. Novel rasa puisi, begitulah kira-kira. Saya tidak akan memposting resensi, resume, atau berkoar-koar merekomendasikan buku ini. Silahkan Anda menilai sendiri dengan membaca quote-quote yang saya posting ini:

"Tidak apa," katanya pada domba-dombanya. "Aku kenal gadis-gadis lain, di tempat-tempat lain."
Tapi di hatinya dia tahu tidak demikian halnya.

Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.

Dalam hidup ini, justru hal-hal sederhanalah yang paling luar biasa; hanya orang-orang bijak yang dapat memahaminya.

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, seperti yang dialaminya di seminari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain, maka orang-orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.

"Beginilah dusta terbesar itu: bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Demikianlah dusta terbesar itu."

Takdir adalah apa yang ingin kaucapai.

"Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."

Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya.

Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kaumiliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya.

Dia harus memilih antara cara hidup yang telah dikenalnya dengan sesuatu yang ingin dimilikinya.

Dan kalau setiap hari sama saja, itu karena orang-orang tidak menyadari hal-hal indah yang terjadi dalam hidup mereka setiap hari, seiring terbenamnya matahari.

Si anak lelaki merasa iri pada angin yang bertiup bebas, namun disadarinya dia pun bisa sebebas angin. Tak ada yang menahannya, kecuali dirinya sendiri.

Saat orang mengambil keputusan, berarti dia menceburkan diri dalam arus deras yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dibayangkannya ketika pertama-tama mengambil keputusan tersebut.

Semakin dekat seseorang dalam mewujudkan takdirnya, semakin takdir itu menjadi alasan sejati keberadaannya.

Anak itu mulai memahami bahwa intuisi sebenarnya adalah peleburan jiwa dengan begitu saja ke dalam arus kehidupan universal, dimana sejarah semua manusia saling terkait, dan kita bisa mengetahui segalanya, sebab segalanya telah tertulis di sana.
"Maktub" kata si anak, teringat ucapan pedagang kristal itu.

Segala sesuatu di bumi ini terus-menerus bertransformasi, sebab bumi ini hidup... dan memilki jiwa. Kita bagian dari jiwa itu, itu sebabnya kita jarang menyadari bahwa jiwa ini bekerja untuk kita.

Setiap orang punya cara masing-masing untuk mempelajari sesuatu.

Sebab, kalau kau mengerti bahasa tersebut, mudah saja memahami bahwa ada seseorang di dunia ini yang menanti-nantimu, entah di tengah padang gurun atau di tengah kota besar. Dan saat dua orang ini bertemu dan mata mereka beradu pandang, masa lalu dan masa depan tidak lagi penting. Yang ada hanyalah saat ini, serta keyakinan yang amat sangat bahwa segala sesuatu di bawah matahari ini digoreskan oleh satu tangan yang sama. Tangan yang telah membangkitkan rasa cinta, menciptakan kembaran jiwa untuk setiap orang di dunia. Tanpa cinta semacam itu, mimpi-mimpi kita tak lagi berarti.

"Aku akan pergi jauh," katanya. "Dan aku ingin kau tahu, aku akan kembali. Aku mencintaimu, sebab..."
"Jangan katakan apa pun," sela Fatima. "Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu alasan untuk mencintai."

Sebab bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan.

Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik lagi.

Manusia lebih banyak memimpikan pulang ke rumah daripada meninggalkan rumah.

Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.

Memang benar, hidup ini sangat murah hati pada orang-orang yang mau mengejar takdir mereka.

Bagaimana?
Quotes di atas hanya sebagian kecil isi novel itu saja.
Sekonyong-konyong (*ketularan bahasa di novel itu haha), jadi teringat tugas Bahasa Indonesia yang deadlinenya besok. Akhir kata, Selamat Tahun Baru! Semoga kita senantiasa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar