Jumat, 13 Maret 2020

Februari

Sudah lama sejak saya berjanji akan mengedit tulisan di postingan terakhir saya-yang sampai saat ini belum diedit juga. Seperti sifat Fitria yang telah banyak diketahui orang, saya malas. Setiap membuka blog ini dan ingat pada janji saya itupun akhirnya saya jadi mengurungkan niat membuat untuk postingan baru. Tapi kali ini, harap maklum, saudara-saudara. Salam damai. Saya akan mengedit postingan berjudul "Berkompromi dengan Mimpi" itu nanti. (peace)
Huh, by the way,
Sekarang tahun 2020.
1 tahun lebih saya tidak menulis, pantas rasanya seperti ada yang hilang.
Desember 2018 hingga Januari 2020, ada banyak hal yang terjadi dalam diri maupun di sekitar saya. Kalau mau diuraikan beberapa diantaranya adalah wajah muram saya setelah keluar dari ruang tempat pelaksanaan tes SKB CPNS (kala itu nilai saya tidak memenuhi target), langit biru yang menjadi saksi penyerahan SK CPNS ke tangan saya, teman-teman yang patah hati, teman-teman yang (tiba-tiba) menikah, drama aktualisasi, dan kali pertama menghadapi petugas imigrasi. Semua yang terjadi dalam selang waktu itu kadang diiringi oleh senyuman lebar, tawa terbahak-bahak, kekecewaan dan kegelisahan, serta isak tangis. Apapun itu, saya sudah melewatinya. Sudah terlewati. SUDAH TERLEWATI. YEAY!!! (lega sekali mengungkapkan rasa bangga pada diri lewat tulisan).
Oh ya, mengapa hanya sampai Januari? Karena tulisan kali ini akan menceritakan tentang Februari.
Februari 2020, dimulai dengan hujan di siang hari. Tanggal pertama di bulan Februari itu saya isi dengan kegiatan memasak soto ayam (ingat setelah scrolling archive instagtam). Berlakon layaknya seorang calon istri idaman, padahal kalau disuruh membuat lagi pun saya harus bolak-balik menyontek resep di google. Saya pikir ada satu hal yang harus saya sampaikan di sini. Saya bisa memasak, tapi saya tidak bisa menghafal bumbu masakan ataupun teknik memasak. Oh ya, saya juga tidak ingat seberapa banyak garam yang saya masukkan ke dalam masakan saya beberapa hari yang lalu. Intinya saya bisa memasak, tapi tidak tahu apakah masakan yang saya buat akan terasa enak. Cookpad masih menjadi andalan.
Ini agak di luar dari pembahasan, tapi saya merasa bahwa setelah adanya teknologi smartphone, otak saya jadi lebih sulit mengingat sesuatu. Bahkan saya tidak hafal nomor telepon ibu saya. Kalau mau dibandingkan, dulu sebelum handphone menjadi secanggih ini, saya ingat betul nomor telepon ayah saya. Sampai sekarang juga masih ingat. 081380530xxx, digit belakangnya disensor seperti di tv. Kita tidak boleh menyebar nomor telepon seseorang tanpa izin ke yang bersangkutan dulu, kan? Karena saya tidak izin dan malas minta izin, jadi disensor saja hihi
Kembali ke pembahasan.
Awal Februari saya berjalan dengan baik. Mencoba Boba KFC yang murah meriah tapi lumayan enak dan membeli baju pramuka baru juga sudah menyenangkan hati. Saya jadi tidak menggerutu lagi di dalam hati saat harus memakai baju pramuka dari zaman kuliah yang kebesaran dan tidak menyerap keringat. Itu adalah salah satu rezeki yang Allah berikan di bulan Februari.
Masuk ke pertengahan bulan, saya mendapat rezeki lain lagi. Bisa menonton show stand up comedy Raditya Dika dengan menggantikan saudaranya teman yang tidak bisa datang sungguh di luar dugaan. Belum lagi, ada paket gratis yang sampai ke rumah. Bedak Maybelline Fit Me yang terbaru. Selain itu, OGN. Saya tidak pernah tahu apa itu OGN sebelumnya sampai pada akhirnya saya disuruh ikut oleh Kepala Sekolah. Masuk ke dalam juara 6 besar Olimpiade Guru Nasional tingkat kecamatan cukup mengejutkan. Saya hanya belajar 1 malam, tahu sendiri malam sebelumnya saya malah cekikikan menonton Raditya Dika. Rezeki lainnya di bulan Februari.
Tiba di akhir Februari. Saya berulang tahun, untuk ke 23 kalinya. 23 tahun sudah saya bertahan hidup di dunia. Saya tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kejutan dari anak murid yang seringkali saya marahi agar jadi lebih disiplin. Mereka membawakan sebuah ice cream cake dan 1 kotak besar nasi kuning dengan lauk ayam goreng, nugget, tempe orek, dan pelengkap lainnya. Beberapa hari setelahnya saya duduk terharu di depan banner Olimpiade Guru Nasional tingkat Jakarta Timur wilayah 1. Saya menjadi salah satu wakil dari kecamatan untuk bertanding di tingkat kota. Mata saya sempat berkaca-kaca sepertinya haha berlebihan, ya? Tapi saya merasa bahwa kebahagiaan yang Allah berikan sejak awal bulan tidak ada habisnya. Saya merasa tidak pantas untuk menjadi sebahagia itu.
Belum selesai...
SK PNS DKI Jakarta akhirnya sampai ke tangan saya. Perjalanan panjang yang ada dibalik sebuah keputusan gubernur itu bermunculan dalam pikiran saya. Lagi, saya merakan kebahagiaan yang luar biasa. Rezeki yang terlalu banyak.... semoga berkah.
Sebagai seorang manusia biasa, ada sedikit rasa khawatir terhadap kembalinya kebahagiaan yang saya rasakan ke titik normal. Jika diibaratkan, saya telah terbang ke langit ketujuh, maka saya ketakutan saat harus kembali ke tanah karena itu terlalu jauh. Selain khawatir, saya juga memiliki rasa serakah, saya tidak ingin kebahagiaan itu berhenti sampai di situ. Saya ingin bisa menghentikan waktu, memperpanjang waktu, ataupun memutar balik waktu.
Maka, 29 Februari 2020, saat yang tepat untuk mendengarkan lagu BTS Butterfly.

Ohya, seharusnya saya merenungkan jawaban Padmavati saat ditanya oleh Raghav Chetan tentang apa sebenarnya kebahagiaan itu.
Raghav Chetansukh kya hai? (What is happiness?)
Padmavatibrahm (An illusion)

Ya, apapun itu, sekarang saya akan bersyukur terhadap apapun yang telah terjadi. Saya akan menganggap Februari 2020 sebagai hadiah. Hadiah bagi seorang Fitriah Choirunnisa yang masih perlu banyak belajar tentang kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar