Selasa, 11 Agustus 2020

Romantisisasi Kekalahan

Romantisisasi, bukan kata yang sebenarnya ada di pikiran saya ketika muncul niat untuk membuat tulisan ini. Romantisasi, kata yang biasa saya dengar—baca—di media sosial inilah yang tadinya akan digunakan. Namun, demi kepentingan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, a.k.a (memang karena Fitria ribet aja orangnya) jadi saya mencari tahu lebih dulu tentang asal muasal kata romantisasi ini.
Berbekal hasil pencarian di Google, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kata romantisisasi, hasil serapan dari kata Bahasa Inggris romanticization. Artinya? Ya sesuai dengan yang biasa kita pahami dengan istilah romantisasi kok. Silakan googling sendiri tentang kata romantisisasi kalau penasaran (engga penasaran juga gpp, gamaksa kok), saya tidak mau panjang lebar menjelaskan, mengejanya saja seperti butuh usaha, soalnya.
Sebelum benar-benar masuk ke inti tulisan saya mau cerita dulu ah. (Btw ini kan blog saya, suka-suka saya berarti kan ya?). Beberapa hari belakangan saya agak "oleng", saya merasa agak kewalahan untuk menyelesaikan semua tanggung jawab saya. Seoleng apa? Ya kira-kira sampai harus ditelpon pengawas untuk segera mengumpulkan laporan induksi karena hanya saya saja yang belum mengumpulkan akibat hardcover harus dibongkar ulang di hari pengumpulan lah. Bersyukur banyak sekali orang-orang yang membantu, sampai bingung bagaimana harus membalas jasa mereka nanti.
Faktornya? Kalau dijabarkan mungkin akan jadi sangat banyak, tapi faktor yang paling mengakibatkan keolengan saya sepertinya adalah kehidupan yang baru saja menunjukkan warna aslinya. Halah, apa coba maksudnya? Entahlah, ya intinya saya belajar banyak tentang kehidupan belakangan ini.
Mengenal orang-orang di dunia ini dengan berbagai intensi dan tujuan, bukan hal yang mudah. Mengenal diri sendiri pun rasanya tidak pernah khatam, menganalisis warna-warni dalam diri tiap orang pastilah sulit. Dunia ternyata memang bukan hanya tentang hitam atau putih, ada biru langit yang teduh, biru dongker yang gelap, merah yang ditambah putih sehingga jadi merah muda, atau coklat yang muncul atas pencampuran 3 warna. Kok jadi belajar SBdP? Haha
Urusannya apa sama tulisan ini, fit? Ya inimah maksudnya mau curhat aja, saya merasa obat dari segala keolengan saya itu adalah menulis. Lama tidak menulis, di masa pandemi yang menekan mental ini, pantas akibatnya hidup penuh blunder. Harapannya semoga saya tidak banyak blunder lagi setelah mencurahkannya di sini.
Baiklah, jadi setelah ditelpon pengawas hari itu, mestinya laporan itu menjauh dari saya sebagai tanggung jawab yang sudah ditunaikan. Lalu hari ini, bisa menonton film lewat hp sebagai penghargaan atas gugurnya satu kewajiban sangatlah membahagiakan. Film yang saya pilih hari ini; Kesari. Sebelum memutuskan menonton filmnya, saya sudah lama mendengar ostnya yang berjudul Ve Maahi. Lagu dalam bahasa Punjab itu terngiang-ngiang setelah muncul beberapa kali di explore instagram sebagai backsound di video-video brown–tiktokers.
Saat mulai menonton, saya tidak mengharapkan apapun, tulus dan mengalir saja ingin mencari penghiburan. Lalu di tengah menonton sempat muncul perasaan untuk bersiap akan serangan rasa patriotik yang kental dan ending bahagia yang sudah lumrah. Selain faktor jalan cerita, aktor Akhsay Kumar juga sudah biasa menggambarkan sosok yang "punya pencapaian" di akhir cerita, seperti pada film Padman, Toilet: Ek Prem Katha, atau Airlift. Namun nyatanya, ekspektasi tinggal ekspektasi, di akhir film tangisan saya justru pecah hanya karena sepasang sepatu.
Kesari, sembari menikmati sajian di menit penghabisan, membuat saya teringat pada film Padmavaat. Film yang berhasil memberi kesan lebih dibanding film lainnya bagi saya. Awalnya saya berpikir ini hanya karena masalah latar film yang membuat saya menghubungkan keduanya. Namun, setelah berusaha melihat polanya, tercetuslah dalam pikiran Fitria istilah "romantisisasi kekalahan".
Romantisisasi kekalahan, entah merupakan istilah yang tepat atau tidak, itulah yang muncul dalam benak saya. Berdasarkan ending yang tidak seperti pada cerita Disney—Happily Ever After— atau adanya pencapaian di 3 film Akhsay Kumar yang saya sebut sebelumnya, seharusnya istilah itu masih bisa dianggap masuk akal. Padmawati dan Ishar Singh tidak menunjukkan "kemenangan" secara tersurat. Sungguh menarik, bahwa dua kata antonim–kalah dan menang– bisa dilhat hanya dari sedikit sudut pandang yang berbeda.
Padmawati dengan ritual jauharnya seakan terlihat konyol. Ishar Singh yang nekat berperang sampai petang dengan jumlah prajurit hanya 21 orang sementara jumlah lawan 10.000 orang pun terkesan gila. Mereka mati di akhir cerita. Mereka kalah.
Terlepas dari diangkatnya kisah mereka berdasarkan sejarah yang memang menujukkan bahwa mereka kalah–mati, makna dari tindakan mereka terungkap dengan cara yang elegan. Tentang sebuah kehormatan. Sampai pada titik di mana penonton berhasil merasakan kemenangan di tengah kekalahan mereka, maka romantisisasi kekalahan dalam kedua film ini dapat dianggap berhasil.
Sebagai seorang yang bukan kritikus film ataupun reviewer film, hal rumit mengenai film yang mampu saya lakukan hanyalah menghubungkan insight dari film ke dalam kehidupan nyata. Romatisisasi kekalahan ini mengajarkan saya bahwa—terlepas dari kelihaian orang yang terlibat dalam film tersebut—semua kisah memang tidak harus berakhir indah untuk bisa didongengkan. Tidak semua hal harus berhasil untuk bisa dibanggakan. Tidak hanya kemenangan yang pantas disanjung, tapi proses menghasilkan, entah menang atau kalah, pantas untuk diriwayatkan.
Romantisisasi kekalahan bukanlah hal yang buruk. Setidaknya gambaran dalam film Padmavaat dan Kesari ini menunjukkan bahwa melafalkan sajak tentang kekalahan bukan ide yang salah. Kadangkala dari sebuah perjuangan yang tidak berakhir bahagia kita bisa belajar untuk memahami makna. Ilusi  yang muncul dari sebuah romantisisasi kekalahan pun justru malah akan membuat maknanya semakin dalam.
Kisah yang dianggap gagal, sejarah yang tak menghasilkan sebuah pencapaian, atau narasi yang tumbang, semua pantas untuk diingat. Kekalahan bukanlah hal yang memalukan, perjuangan yang telah dilakukan, baik menang atau kalah, semua pantas untuk diceritakan.
Kalah dalam urusan pekerjaan, kalah dalam hal percintaan, kalah dalam konteks apapun, proses yang telah dilalui patut dihargai. Sedikit "oleng" karena kalah tidak masalah, karena ini semua hanya proses belajar. Tidak perlu khawatir, menang atau kalah dilihat orang, percayalah pada kemenangan dari sudut pandang diri sendiri. Karena orang lain tak tahu proses yang sudah dijalani.
Lagipula, menang atau kalah memang bukan terjadi atas kehendak kita sendiri. Ada Dzat yang sudah menuliskan bagaimana jalannya kehidupan dari setiap makhluk yang ada di bumi. Semua yang telah diusahakan tidak perlu dianggap sia-sia hanya karena dicap kalah. Begitupun bahwa kemenangan bukanlah segalanya.
Tetap semangat, selalu hargai orang lain, dan banggalah pada diri sendiri!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar