Sabtu, 30 Mei 2015

Lebih dari Cita-cita

Postingan ini sebenarnya sudah ingin dibuat sejak beberapa hari lalu. Kata-katanya sudah terangkai di kepala saya namun belum sempat dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Belakangan ini tugas kuliah semakin menggila. Beberapa dosen mata kuliah juga sudah mulai mengadakan UAS. Mengajar dan kegiatan organisasi pun membuat hampir setiap harinya saya sampai di rumah pada malam hari dengan tubuh tanpa tenaga. Ternyata begini toh rasanya jadi anak kuliahan.
Sudah cukup dengan prolognya yang lebih mirip dengan curhatan, jadi postingan seperti apa sih yang sudah saya rangkai kata-katanya sejak lama ini?
Ini adalah hutang saya di bulan Mei kepada Kombun (Komunitas Blogger UNJ).
Bermula dari anak les saya, Febi, yang setelah kami melaksanakan sholat magrib bersama tiba-tiba mencetuskan kata-kata, "Ayah kakak guru, kakak juga mau jadi guru. Gimana gitu menurut aku. Masa' nggak mau lebih dari orangtua sih, kak?"
Saya mencerna kata-katanya sebelum akhirnya balik bertanya, "Kalau gitu harusnya jadi apa dong?"
"Jadi dokter kek, kak. Atau apa gitu yang lebih tinggi dari guru."
Saya tersenyum. Lalu menanggapi sambil bercanda, "Yang lebih tinggi dari guru ya? Hmm... Kalau gitu kakak jadi Kepala Sekolah aja deh,"
"Atau jadi Menteri Pendidikan deh sekalian." lanjut saya. Febi tertawa, tidak menanggapinya dengan serius.
Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Febi terus terngiang. Sambil menikmati perjalanan di angkot saya memikirkan kata-kata Febi. Menjadi guru terdengar begitu sederhana, tidak seperti dokter yang terdengar hebat.
Lalu pikiran saya sampai pada masa di mana saya masih duduk di Sekolah Dasar (sekitar kelas 5 atau 6). Saya ingat dengan jelas bagaimana cara saya bermain peran sebagai seorang guru. Dengan spidol hitam di tangan, saya mengetuk-ngetuk papan tulis kecil-media pembelajaran milik ayah yang ada di rumah-yang sudah bertuliskan huruf latin bahasa Arab. Adik saya dan temannya-anak tetangga-duduk berhadapan dengan saya seolah-olah mereka menjadi murid yang begitu setia mendengarkan gurunya. Mereka belum belajar bahasa Arab, tentu saja karena mereka masih berstatus anak TK. Untuk membaca pun mereka masih terbata-bata. Sedangkan saya sendiri mempelajari bahasa Arab di TPA.
Saya membacakan huruf latin yang tertulis di papan, kemudian mereka mengulang kata-kata saya setelahnya. Dengan sok tahunya, saya mengajarkan bahasa Arab mengenai bagian tubuh. Melihat mereka belum cukup paham apa yang saya ajarkan, saya mencoba cara lain. Tangan kanan saya menyentuh mata saya, kemudian berkata, "Ainun". Mereka lalu mengikuti kata-kata dan gerakan tangan saya.
Wajah mereka terlihat lebih memahami apa yang saya ajarkan. Namun saya belum juga puas. Entah mendapat ide dari mana, saya membuat lagu bahasa Arab-nadanya dikarang sendiri-tentang bagian tubuh. Dimulai dari mata, hidung, dan seterusnya. Mereka terlihat senang dan semakin paham.
Saya tersenyum lebar. Meski kami hanya bermain, ilmu yang saya punya telah berhasil saya bagikan kepada mereka. Keesokan harinya, adik saya dan temannya meminta untuk bermain guru-guruan lagi. Menjadi guru sangat menyenangkan.
Saya juga teringat saat saya bermain dokter-dokteran. Saya berperan sebagai dokter dan berpura-pura mengobati teman saya yang sakit. Perlengkapan bermain kami sangat sederhana, seperti pensil yang dijadikan jarum suntik.
Teman saya bergantian menjadi pasien, hingga sebelum permainan benar-benar berakhir saya menjadi bosan. Tidak lain yang dapat saya lakukan hanyalah menyuntik lalu memberikan resep obat.
Menjadi dokter tidak begitu menarik bagi saya, menjadi guru justru lebih mengasyikan. Saat bermain dokter-dokteran saya tidak bisa benar-benar menyembuhkan teman saya yang sakit. Berbeda dengan saat bermain guru-guruan yang membuat saya benar-benar bisa membagikan ilmu yang saya miliki. Barangkali itu sebabnya saya memilih guru sebagai cita-cita saya.
Cita-cita yang terlalu rendah? Ya, anggap saja begitu. Namun, melihat ayah saya yang banting tulang bekerja sebagai Guru Honor, bukankah sudah menjadi lebih tinggi ketika saya bercita-cita sebagai Guru PNS? Ayah sendiri selalu berharap saya melanjutkan kuliah ke jenjang S2 agar bisa menjadi Kepala Sekolah atau bahkan Pengawas.
Saya sebagai seorang individu yang ingin mendapat pengakuan di dunia kini juga mempunyai keinginan untuk menjadi seorang Menteri Pendidikan. Entah seberapa besar kemungkinannya karena yang saya tahu untuk menjadi Menteri yang harus dilakukan adalah mendekati calon Presiden.
Dibalik semua itu, menjadi pendidik kini bukanlah hanya sekedar cita-cita masa kecil. Namun juga karena keinginan untuk merubah dunia dari hal paling mendasar. Saya yakin dengan menjadi pendidik saya akan menjadi seseorang yang tak kenal lelah membagikan ilmunya. Menjadi sosok yang lebih dari orangtuanya.

Postingan ini dipersembahkan untuk KOMBUN @BLOGGER_UNJ pada edisi #MEI2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar