Jumat, 05 Juni 2015

#EaaForIndonesia

Nikmatnya rasa kasur. Setelah seharian di luar rumah, kasur punya rasa yang lebih nikmat dari biasanya.
Saya pergi menonton bulutangkis sejak sekitar pukul 11 pagi tadi. Bersama dua orang teman saya. Kami berangkat dengan menumpangi transjakarta dan sampai Istora Senayan 1,5 jam setelahnya.
Kami sepakat untuk membeli tiket class 2 seharga 50.000. Tiket yang paling murah. Maklum saja, kantong mahasiswa. Bisa menonton langsung pun sudah bahagia, meski tak lagi sebahagia saat pertama kalinya. Ya, ini kali kedua saya menonton Indonesia Open.
Tahun lalu latar belakang keinginan saya menonton langsung adalah melihat pemain tampan asal Korea, Lee Yong Dae. Baik di televisi mau pun aslinya, wajah rupawan Lee Yong Dae memiliki pesona tersendiri. Berbeda dengan tahun ini. Saya ingin datang untuk mendukung Indonesia. (ini rahasia: sejujurnya karena ingin melihat ketampanan Jonatan juga haha)
Pertandingan pertama diawali oleh ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda vs Luo Ying/Luo Yu. Suara bising mengisi tiap sudut istora. Para suporter berteriak dengan kompak, "In-do-ne-sia" dilanjutkan dengan tepukan balon yang dibagikan oleh panitia. Tak lupa andalan kami, "Huu" tiap kali lawan mengembalikan bola dan "Eaa" tiap kali pemain Indonesia balas mengembalikannya.
Greysia Polii dan Nitya Krishinda bermain dengan mulus. Set pertama berhasil mereka menangkan.
Namun, di akhir-akhir set kedua kami semua dibuat deg-degan karena skor yang terus kejar-kejaran. Para suporter terus bersorak memberikan semangat hingga akhirnya ganda putri ini berhasil memenangkan pertandingan dalam 2 set. Suporter meloncat-loncat kegirangan lalu membuat wave yang tidak putus-putus karena bergerak memutar.
Selanjutnya giliran pasangan ganda campuran Owi/Butet yang unjuk gigi. Di awal pertandingan, Owi sering sekali membuat kesalahan sendiri seperti sedang tidak fokus. Seorang suporter bapak-bapak yang duduk di depan saya sepertinya merasa geregetan dan berteriak memberi semangat secara pribadi kepada Owi dan Butet. "Butet! Kau bisa, Butet!" serunya dengan logat Batak. Kemudian ia berteriak lagi dengan logat Jawa, "Ahmad, kamu iso! Bejo neng kene." entah apa maksudnya, tapi itu berhasil membuat suporter lain tertawa karena tingkahnya.
Ditengah pertandingan tiba-tiba terdengar soundman memanggil Lee Yong Dae untuk bermain di court 2. Fokus saya terpecah. Antara ingin tetap setia menonton Indonesia dan melirik ke court sebelah. Ujung-ujungnya, saya memperhatikan dua court secara bergantian. Merekam smash keras Lee Yong Dae dan kelincahan Butet bersamaan. Bukankah multitasking sedang populer? Haha
Pertandingan Owi/Butet berakhir sementara si tampan asal Korea masih berjuang di court sebelahnya. Owi/Butet melenggang ke semifinal esok hari. Dasar tidak setia, jeda menuju ke partai selanjutnya saya manfaatkan untuk mengagumi permainan Lee Yong Dae.
Partai selanjutnya diumumkan. Ternyata Jonatan lah yang akan bermain selanjutnya. Baiklah, sekarang saya benar-benar tidak dapat menggambarkan situasinya.
Galau.
Bimbang.
Harus fokus ke mana?
Lagi-lagi akhirnya saya melakukan multitasking.
Di court 2, Lee Yong Dae sedang gigih meraih poin demi poin. Di court 1, Jonatan justru kelihatan tak begitu bersemangat melawan pemain asal Denmark. Atau mungkin bukan tidak bersemangat, tapi kelas mereka memang berbeda. Jonatan baru saja bermain di Indonesia Open kali ini. Ia adalah atlet muda yang berhasil masuk quarter final pun sudah luar biasa.
Akhirnya, Jonatan tumbang dalam 2 set. Tidak apa-apa. Saya pribadi memang tidak terlalu berharap ia menang. Bisa sampai di titik ini, ia sudah hebat.
Lindaweni mengisi partai selanjutnya. Sayangnya, seperti Jonatan, keberuntungan belum berpihak pada Lindaweni. Tapi kerja kerasnya sudah cukup mengagumkan. Di court sebelah (hasil melirik) Lee Yong Dae dan rekannya (lupa namanya) telah berhasil memenangkan pertandingan setelah long set.
Selanjutnya, Ahsan dan Hendra beraksi. Ganda putra ini bermain dengan cepat dan membabat habis lawan nyaris tanpa hambatan. Tak ada lagi yang dapat dikomentari, hanya perlu diacungkan jempol. Namun saat Ahsan-Hendra unjuk kebolehan, 2 court lainnya juga diisi oleh pemain Indonesia. Fokus suporter akhirnya terbagi 3.
Kami menunggu hingga sekitar pukul 19.00 untuk pertandingan Antony. Selama menunggu, saya asyik memperhatikan suporter asal India yang mengibarkan benderanya sambil berteriak-teriak, "India! India!". Pemain tunggal putri India memang sedang bertarung melawan utusan China. Entah bagaimana ceritanya, suporter Indonesia dan India ini bersekutu untuk mendukung India. Lucunya bentuk dukungan mereka adalah dengan beberapa kali menyanyikan lagu India. Sukses mengocok perut. Dengan bangganya suporter India itu bernyanyi hingga saya rasa mereka agaknya lupa tujuan kehadiran mereka untuk mendukung pemain asal India. Mereka justru sibuk menambah relasi dengan beberapa orang Indonesia yang turut mendukung negaranya.
Sampai pada pertandingan terakhir yang kami tunggu. Antony berhasil memenangkan set pertama namun spiritnya seolah berkurang dan membuat lawan mendesaknya untuk long set. Dan akhirnya Antony menyerah.
Malam sudah larut. Kami bergegas pulang ke rumah. Tak lupa sebelumnya kami mengambil beberapa foto di istora. Ada banyak sudut yang pantas diabadikan di sana.
Hari ini menyenangkan. Tapi lelah berteriak-teriak menghabiskan suara. Suara saya sepertinya akan serak besok.
Baiklah, sekian. Selamat istirahat, fit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar