Jumat, 30 Oktober 2015

Prioritas

Beberapa hari yang lalu saya kembali mendengar kalimat, "No one is really busy. It is based on their priority list.". Entah mengapa, saya suka dengan kalimat itu. Ya, tidak ada seorang pun yang benar-benar sibuk. Jika seseorang lebih memilih mengerjakan sesuatu dibandingkan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang dipilih itulah prioritasnya.
Hidup itu pilihan. Kata motivator sih, antara b (born) dan d (die) ada c (choice). Memang dasar motivator bukan orang sembarangan, diantara kelahiran dan kematian benar-benar selalu ada pilihan. Memilih pasangan hidup misalnya #eh
Back to the topic. Pukul 19.00 tadi seharusnya saya dan adik perempuan saya sedang duduk di bangku bioskop dan bersiap cekikikan karena tingkah si Mutan Kwangsoo. Ekspektasi tentang bioskop yang akan saya tapaki itu berkeliaran sejak kemarin sebelum tiba-tiba tadi pagi mendapat pesan untuk mengisi shift mengajar dari kepala cabang bimbel tempat saya berstatus sebagai Tutor Freelance. Seketika itu juga bayangan Kwangsoo memudar, mengingat prioritas.
Janji dengan Fadia -adik perempan saya- akhirnya dibatalkan. Hingga pukul 20.00 bahkan saya masih berkutat dengan anak-anak yang membayar untuk bekal Ujian Nasional mereka. Bukan lantai bioskop yang saya tapaki, tapi lantai sebuah rumah yang disulap menjadi tempat bimbel. Inilah pilihan saya, tentang tanggungjawab.
Tidak ada yang benar-benar ingin saya tegaskan dari tulisan ini sebetulnya. Lagipula ini hanya sekedar celotehan iseng di malam hari. Inginnya, orang-orang bisa mengerti mengapa kadang seseorang tidak bisa membersamai mereka. List prioritas bersifat tentatif. Meski seseorang mungkin lebih memilih untuk berleha-leha di atas kasur, percayalah, itu prioritas mereka. Tanggungjawab pada waktu istirahat tubuh kan bisa saja.
Tidak ada orientation, complication dan resolution dalam tulisan ini. Tanpa prolog dan epilog pula. Kalimat ini kalimat terakhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar