Sebetulnya tidak ingin benar-benar menulis ini. Tapi saya tergugah untuk berkomentar, menanggapi, dan menjawab.
Sejak kecil orang tua saya selalu berpesan untuk tidak mengucapkan "Selamat Natal". Saya masih ingat saat dulu bertanya apa alasannya. Ayah saya yang mempunyai titel S.Ag akan selalu menjawab, "Bagimu agamamu, bagiku agamaku." jawaban paling mainstream yang terdengar dari mulut orang yang ditanyakan pertanyaan semacam itu.
Sejak kecil orang tua saya selalu berpesan untuk tidak mengucapkan "Selamat Natal". Saya masih ingat saat dulu bertanya apa alasannya. Ayah saya yang mempunyai titel S.Ag akan selalu menjawab, "Bagimu agamamu, bagiku agamaku." jawaban paling mainstream yang terdengar dari mulut orang yang ditanyakan pertanyaan semacam itu.
Saya menangkap bahwa jawaban Ayah adalah salah satu arti dari ayat Al-Quran, Surat Al-Kafirun ayat 6. Paham akan hal itu, saya kembali bertanya, "Kalau cuma 'selamat' gitu juga nggak boleh?". Orang tua saya lalu menggeleng.
Beberapa tahun berlalu, saya kembali penasaran dengan hal ini. Beberapa orang bahkan memampang besar-besar spanduk bertuliskan, "ORANG ISLAM DILARANG MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL". Saya tersentak. Sebegitu tidak tolerannya kah Islam? Mana arti toleransi yang bahkan juga diajarkan di dalam mata pelajaran Agama Islam?
Saya akhirnya tidak tahan dan kembali bertanya pada orang tua saya, "Kok Islam nggak toleran sih? Orang Kristen kalo Idul Fitri aja ngucapin, tapi kenapa kalo Natal orang Islam nggak boleh ngucapin? Temen-temen Fitria yang Kristen ramai di media sosial bilang begitu.". Orang tua saya pun menjawab, "Kita nggak pernah minta diucapin 'Selamat Idul Fitri', kalo mereka mau ngucapin silakan aja, mungkin dalam agamanya diperbolehkan, tapi udah aturannya kalo kita nggak boleh ngucapin ke mereka."
"Ya tapi kenapa? Katanya Islam agama yang toleran, tapi kok ngucapin selamat aja nggak boleh?" saya kembali menuntut jawaban. "Kalo Fitria ngucapin, sama aja Fitria ikut merayakan. Fitria emang nggak ikut masuk ke gereja dan berdoa di sana, tapi secara nggak langsung Fitria ikut mengakui kalo 25 Desember itu hari lahirnya Yesus. Sementara di agama Fitria gimana? Nggak mengakui adanya Yesus.". Setelah hari itu, saya berpegang pada jawaban yang orang tua saya berikan. Meski masih ada yang terasa mengganjal, saya mencoba terus meresapi jawaban itu baik-baik.
Hingga suatu hari, saya berdiskusi dengan teman saya mengenai hal ini. Saya mencoba menjelaskan pada teman saya, sebagaimana yang orang tua saya jelaskan pada saya. Namun, teman saya juga merasa masih ada yang mengganjal dalam penjelasan itu. Lagi-lagi, permasalahannya adalah di mana letak toleransi dalam Islam? Diskusi itu berlalu begitu saja tanpa jawaban yang pasti.
Tak lama setelahnya, saya mengikuti mata kuliah Konsep Dasar PKn SD dan membahas tentang Pendidikan Multikultural yang di dalamnya mencakup materi toleransi. Tiba saatnya tanya jawab, saya mengangkat tangan untuk menanyakan apa yang masih mengganjal selama ini. Kurang lebih pertanyaan saya, "Bagaimana cara meluruskan persepsi anak tentang toleransi. Sementara di agama Islam, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Lalu ketika umat Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal, seolah-olah Islam tidak toleransi."
Dosen saya manggut-manggut dan memberikan jawabannya, "Kembali lagi, apa makna toleransi itu sebenarnya? Toleransi berarti menghormati perbedaan. Toleransi BUKAN MENCAMPURADUKKAN perbedaan. Ketika umat Kristen mengucapkan selamat idul fitri, mungkin di dalam agamanya itu tidak dilarang. Namun jika umat Islam tidak mengucapkan selamat natal karena dalam agamanya dilarang, maka di sinilah letak toleransinya. Umat Kristen harus paham bahwa umat Islam dilarang dan harus menghormati itu, karena itu adalah sebuah aturan dalam agama Islam. Saat umat Kristen menghormatinya, di saat itulah ada toleransi."
Secara logika, jawaban itu sangat bisa saya terima dengan baik.
Beberapa tahun berlalu, saya kembali penasaran dengan hal ini. Beberapa orang bahkan memampang besar-besar spanduk bertuliskan, "ORANG ISLAM DILARANG MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL". Saya tersentak. Sebegitu tidak tolerannya kah Islam? Mana arti toleransi yang bahkan juga diajarkan di dalam mata pelajaran Agama Islam?
Saya akhirnya tidak tahan dan kembali bertanya pada orang tua saya, "Kok Islam nggak toleran sih? Orang Kristen kalo Idul Fitri aja ngucapin, tapi kenapa kalo Natal orang Islam nggak boleh ngucapin? Temen-temen Fitria yang Kristen ramai di media sosial bilang begitu.". Orang tua saya pun menjawab, "Kita nggak pernah minta diucapin 'Selamat Idul Fitri', kalo mereka mau ngucapin silakan aja, mungkin dalam agamanya diperbolehkan, tapi udah aturannya kalo kita nggak boleh ngucapin ke mereka."
"Ya tapi kenapa? Katanya Islam agama yang toleran, tapi kok ngucapin selamat aja nggak boleh?" saya kembali menuntut jawaban. "Kalo Fitria ngucapin, sama aja Fitria ikut merayakan. Fitria emang nggak ikut masuk ke gereja dan berdoa di sana, tapi secara nggak langsung Fitria ikut mengakui kalo 25 Desember itu hari lahirnya Yesus. Sementara di agama Fitria gimana? Nggak mengakui adanya Yesus.". Setelah hari itu, saya berpegang pada jawaban yang orang tua saya berikan. Meski masih ada yang terasa mengganjal, saya mencoba terus meresapi jawaban itu baik-baik.
Hingga suatu hari, saya berdiskusi dengan teman saya mengenai hal ini. Saya mencoba menjelaskan pada teman saya, sebagaimana yang orang tua saya jelaskan pada saya. Namun, teman saya juga merasa masih ada yang mengganjal dalam penjelasan itu. Lagi-lagi, permasalahannya adalah di mana letak toleransi dalam Islam? Diskusi itu berlalu begitu saja tanpa jawaban yang pasti.
Tak lama setelahnya, saya mengikuti mata kuliah Konsep Dasar PKn SD dan membahas tentang Pendidikan Multikultural yang di dalamnya mencakup materi toleransi. Tiba saatnya tanya jawab, saya mengangkat tangan untuk menanyakan apa yang masih mengganjal selama ini. Kurang lebih pertanyaan saya, "Bagaimana cara meluruskan persepsi anak tentang toleransi. Sementara di agama Islam, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Lalu ketika umat Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal, seolah-olah Islam tidak toleransi."
Dosen saya manggut-manggut dan memberikan jawabannya, "Kembali lagi, apa makna toleransi itu sebenarnya? Toleransi berarti menghormati perbedaan. Toleransi BUKAN MENCAMPURADUKKAN perbedaan. Ketika umat Kristen mengucapkan selamat idul fitri, mungkin di dalam agamanya itu tidak dilarang. Namun jika umat Islam tidak mengucapkan selamat natal karena dalam agamanya dilarang, maka di sinilah letak toleransinya. Umat Kristen harus paham bahwa umat Islam dilarang dan harus menghormati itu, karena itu adalah sebuah aturan dalam agama Islam. Saat umat Kristen menghormatinya, di saat itulah ada toleransi."
Secara logika, jawaban itu sangat bisa saya terima dengan baik.
Saya dapat mengibaratkan, bagaimana umat Hindu tidak diperbolehkan memakan daging sapi (mungkin tepatnya bukan tidak diperbolehkan, tapi karena mereka menganggap bahwa sapi adalah hewan yang suci), sementara di dalam agama Islam pada Hari Raya Idul Adha, kami bahkan menyembelih sapi, membagikan dagingnya dan mengonsumsinya. Atas nama toleransi, maka yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah tidak membagikan daging sapi tersebut kepada umat Hindu, meskipun misalnya, kedua umat tersebut hidup berdampingan. Bagi umat Hindu tersebut pun, tidak perlu melanggar ajaran agamanya dengan menerima dan mengonsumsi daging yang dibagikan. Dengan memahami dan menghormati aturan yang terdapat di agama Hindu, maka itulah yang disebut sebagai toleransi. Toleransi memang sungguh sesederhana itu.
Maka, saya dan umat Islam lain yang tidak mengucapkan "Selamat Hari Raya Natal, Selamat Hari Raya Nyepi, atau Selamat Hari Raya Waisak" melakukan itu bukan karena tidak toleransi. Itu karena adanya aturan yang tidak boleh dilanggar. Karena pada esensinya agama adalah sebuah aturan. Jika kita melanggar aturan yang ditetapkan dalam sebuah agama, kalau begitu apa gunanya kita beragama, kan?
"It is thus tolerance that is the source of peace, and intolerance that is the source of disorder and squabbling." -Pierre Bayle
*tentang pengertian toleransi, saya sarankan untuk membaca yang lebih ilmiah dari sekedar tulisan ini
*dialog antara pertanyaan dan jawaban di atas tidak sama persis seperti aslinya, tetapi maknanya tetap sama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar